bayi tabung

Pengalaman bayi tabung dalam mengatasi masalah kesuburan untuk mendapatkan si buah hati

4th February 2015

Oocyte Degenerasi – Sarah

Hallo, saya mau berbagi pengalaman TTC. saya menikah sudah setahun (pasti orang bilang masih baru deh) tp tunggu.. walaupun cuma setahun saya mengalami a year full of stress. (agak lebay sih)

Sebulan setelah menikah saya mengalami haid 2x sebulan dalam dua bulan stelah datang ke bbrp dokter pendarahan tersebut belum sembuh, pada akhirnya saya datang ke Prof Ali Baziad di RS Brawijaya dan saya diberikan obat Lutenyl utk diminum. Setelah minum obat haid pun lancar kembali, tetapi setelah obat itu selesai diminum saya tidak haid selama 4 bulan. awalnya berharap hamil tapi cuma dapet harapan palsu hiks :'( saya datang ke dokter obgyn lainnya dan bilang kondisi ini adalah efek dari obat lutenyl tsb jadi disuruh sabar aja nunggu sampai haid normal kembali.

Akhirnya setelah bbrp bulan berikutnya haid pun tampak sudah mulai normal kembali dan akhirnya saya dan suami memutuskan untuk memulai program kehamilan.

Saya memilih dr. Budi Wiweko (K) FER, saya memilih beliau krn pertimbangan beliau ada praktek juga di RSPI yg notebene dekat dengan kantor saya.
Saya memulai konsultasi dengan beliau di Klinik Yasmin RSCM Kencana krn beliau praktek disana hampir setiap hari dan gampang ditemui.

Pada waktu konsultasi pertama kali saya sudah membawa bbrp hasil lab seperti LH, FSH, dll dan dokterpun seperti biasa melakukan USG Tranvaginal. dan dokter bilang cadangan sel telur saya sedikit sekali dan beliau menyarankan untuk langsung ikut program IVF. saya dan suami langsung shock ya secara umur saya dan suami baru 25th dan menikah baru setahun sdh langsung disarankan bayi tabung. untuk pemeriksaan lebih lanjut dokter menyuruh untuk tes AMH (Anti Mullerian Hormone) tes hormon untuk mengetahui brp banyak cadangan telur kita. hasil tes ini baru bs didapatkan seminggu ktnya tes lab ini sangat complex.

Seminggu berlalu, saya balik ke dr. budi lagi dengan membawa hasil tas lab tersebut oiya wktu itu suami juga disuruh tes analisis sperm lengkap. nah pada saat membaca hasil lab kami berdua nilai AMH say cuma 0,69 padahal normal untuk seusia saya rata2 nilainya diatas 1, dan dokter bilang cadangan telur saya sangat sedikit. lalu dokter membaca hasil tes suami saya dan suami saya divonis termasuk dalam oligozoospermia (kekurangan sel sperma) dokter langsung bilang “wah kompak yaa, kalau begini harus cepet2 hamil nih”

Akhirnya saya dan suami segera memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung. Saya datang kembali ke dr budi pada haid hari ke-2 dan seperti biasa dr melakukan USG dan dia bilang lagi saya hanya punya satu folikel. sedih luar biasa saya selalu bertanya kenapa saya bagini padahal umur masih muda. stelah konsul dihari ke 2 haid, dolter langsung memberikan saya obat suntik Gonal f 300 unit + Saizen berharap sel telur ada yang tumbuh lagi. saya disuntik selama 7 hari dan setiap 2 hari sekali kontrol ke dokter untuk melihat perkembangannya.

Setelah beberapa kali suntik, sel telur saya tidak ada yang tumbuh jadi hanya satu saja walaupun diameternya membesar sesuai yang diharapkan. sedih banget rasanya. sampai di hari ke tujuh sel telur saya sudah sebesar 23mm, dokter menyarankan utk OPU walaupun agak gambling bisa dpt oocyte atau tidak. saya dan suami memutuskan untuk maju terus.

Saya dijadwalkan untuk OPU pada hari Jumat, 30 Januari 2015. Semenjak program ini saya jadi sering bolos kerja. Alhamdulillah Bos masih ngertiin ya. pada saat giliran saya OPU saya sudah dipasang jarum infus lalu di USG masih terddapat folikelnya atau tidak secara folikel saya cuma satu lalu saya mulai dibius, setelah dibius saya langsung tidur seperti orang pingsan. selama proses tersebut saya tidak merasakan apa-apa tapi seperti tersentak mendengar para tim berteriak “ALHAMDULILLAH” saya pun langsung tersadar mungkin saya mendapat satu OOcyte. Saat itu saya sangat lega sekali dan sangat senang sekali walaupun badan masih lemas krn obat bius.

Saat benar2 tersadar saya sudah berada di ruang recovery dan suster membantu saya untuk bangun dan berganti pakaian.
ternyata saya dan suami telah disediakan makan, lalu saya makan sambil menunggu suster memberikan obat dan suami saya menyetor spermanya untuk dipertemukan dengan si oocyte ini.

Setelah menunggu beberapa saat, embriologis datang ke saya dan mengabarkan kl oocyte saya mengalami degenerasi dan tidak dapat dipertemukan dengan si sperma. Patah hati langsung dan gak bisa berkata apa2, stelah itu saya menangis seharian jd tidak selera makan. Bukan karena masalah biaya yang sudah kami keluarkan saja, tp sedih kenapa kondisi saya sperti ini. saya sangat terpukul dengan kejadian tersebut karena saya sudah berharap banyak dengan program ini.

Saya diinfokan untuk datang lagi ke dr. budi pada hari rabu minggu berikutnya. Saya berpikir untuk istirahat sebentar dari program ini sambil menabung utk program selanjutnya.

Adakah para pembaca disini yang mengalami pengalaman yang hampir sama dan mau berbagi pengalamannya? Thankyou

Regards,
Sarah Mashitta

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...Loading...

posted in Jakarta, Obat, Proses, Sperma bermasalah | 14 Comments


2nd February 2015

Berbagi pengalaman keberhasilan proses bayi tabung aka IVF di RS. Family Pluit, Jakarta. – Thomas

Kami menikah tahun 2004 dan sudah menikah 10 tahun dan belom dikaruniai anak. Sejak nikah saya pindah ke Taiwan karena memang istri saya orang Taiwan. Tahun pertama menikah istri saya memang berencana tidak punya anak dulu dan saya pun menganggap santai mengenai hal ini. Tahun kedua kami mencoba punya anak tapi tidak serius, jalani apa adanya dan istri saya juga melakukan HSG untuk melihat apakah ada sumbatan atau tidak dan hasilnya normal2 saja.

Waktu berlalu sampai kami tidak focus dan lupa untuk memiliki anak. Lingkungan di sekitar kami di Taiwan yang memang jarang anak kecil dan banyak temen2 di Taiwan tidak mempunyai anak ataupun belom menikah, jadi kami tidak ada pacuan untuk memiliki anak secara serius. Untuk sekedar infomasi, di Taiwan memang birth rate nya minus, jadi banyak yang meninggal daripada yang lahir, dikarenakan situasi Taiwan yang memang banyak membuat orang tidak ingin punya anak bahkan banyak perempuan2 yang tidak mau menikah, sudah menikah pun banyak yang tidak mau punya anak. Bahkan sampai pemerintah Taiwan pun memberikan insentif untuk mendorong warganya punya anak. Salah satu sebabnya, ga ada yang urusin, kalo di Indonesia kan enak ada babysitter, disana walaupun ada, pasti mahal sekali dan itu pun beda dengan babysitter di Indonesia yang mungkin bisa urus sampai bayinya mencapai paling dikit umur 1 tahun, bahkan lebih.

Tahun 2010, dimana saya baru punya BB dan FB dan terhubung dengan teman2 di Indonesia dimana mereka rata-rata sudah mempunyai anak, dikit2 status di BB atau FB selalu mengenai anak dan ketika saya pulang ke Indonesia dan bertemu dengan mereka (tahun dimana disana sini ada reuni dengan teman lama), intinya selalu mengenai anak dan akhirnya saya terpacu untuk secara serius memiliki anak. Dimulai dengan inseminasi, sinshe, pergi ke berbagai dokter berdasarkan referensi teman dan saudara, sampai yang berhubungan dengan hal gaib karena di Taiwan banyak sekali kuil untuk orang yang tidak punya anak, tapi yang terakhir ini, kami tidak terlalu percaya terlebih bila ada kuil yang minta persyaratan macem2, bila seperti wihara biasa dan kami berdoa, akan kami jalani.

Pernah kami bela2in drive selama 4 jam untuk ke kuil diluar kota Taipei karena direferensi oleh rekanan kami, kalo kuil ini khusus untuk pasangan yang ingin mencari keturunan. Setibanya disana kami di briefing dan ujung2nya bila berhasil ada persyaratannya, yaitu kami harus menyumbang tiap tahun sebesar NTD20000 (setara Rp 8jt dengan kurs sekarang 2014). Wuah, ada satu keterikatan, kalo berhasil pasti saya akan nyumbang tapi kan gak tiap tahun. Kuil ini sangat besar dan indah, terletak di sisi gunung, mungkin manjur makanya besar karena banyak dana yang masuk. Dan salah satu syarat lagi, kami harus mengusap kepala patung Budha yang berjumlah 500 patung sambil mengucapkan amitofo. Berhubung sudah jalan jauh, saya pikir sayang untuk balik lagi. Akhirnya kami jalanin dengan mengusap patung Budha tersebut, dengan cuaca panas dan kondisi letak patung yang tidak beraturan dan posisi patung berada didataran miring, akhirnya kami nyerah ketika menyentuh patung yang ke 50. Saya berpikir, kalo hati udah ga sreg, percuma dilanjutkan. Alhasil kami pulang sia2.

Balik lagi ke usaha kami untuk mendapatkan anak, setelah inseminasi 2 kali dan pergi kebanyak dokter, akhirnya kami putuskan untuk bayi tabung di tahun 2011. Saya search di google tentang dokter IVF yang bagus di Taiwan, akhirnya saya menemukan 1 dokter di daerah Taichung (2 jam drive dr Taipei via toll, jaraknya kira2 jakarta to bandung) dan rata2 orang Taichung mengenal dokter ini. Dokter ini memang sangat ramai dan dengan kondisi klinik yang kecil, bisa dibayangkan betapa semrawutnya pasien yang menunggu. Tidak hanya pasien local, saya lihat banyak pasien dari mancanegara seperti bule, Korea, Jepang. Saya pede banget dengan dokter ini, karena melihat kondisinya yang ramai sekali ditambah adanya pasien mancanegara.

Singkat cerita, kami start Januari 2011 dan selama itu dokter mencoba memberikan obat hormon dan menyuruh kami untuk mencoba normal terlebih dahulu selama beberapa bulan dikarenakan tidak diketemukan masalah kesuburan diantara kami berdua. Sampai bulan April 2011 tidak berhasil juga akhirnya diputuskan untuk bayi tabung. Pada saat OPU hanya terambil 4 telur matang, rasa kecewa sudah mulai terlihat karena saya banyak baca di internet, banyak yang dapat telurnya lebih dari 10, berbekal bahwa telur banyak atau sedikit tidak menjadi patokan, akhirnya saya mencoba untuk tenang. Kekecewaan berikutnya datang lagi, jadwal ET semestinya hari sabtu, berhubung penuh, dipindah ke hari senin karena minggu tutup. Soalnya kami pernah baca review seseorang di internet dengan kejadian yang sama, mestinya OPU hari sabtu berhubung penuh jadi di pindah ke hari senin dan hasilnya gagal, karena kelamaan. Berdoa supaya kejadian itu tidak menimpa kami, kami mencoba tenang dan pasrah karena mungkin itu udah jalannya. Oh yah sejak proses OPU kami menyewa apartemen di daerah Taichung supaya kami tidak bolak balik Taipei yang lumayan jauh.

Pada proses ET, hanya 1 embrio yang bisa ditransfer, 3 lainnya rusak, benar saja perkiraan kami, rasa pesimis pun tambah dalam. Kami pun menunggu dengan was was di apartemen selama 2 minggu. Ada beberapa hal yang tidak di perhatikan oleh istri saya selama proses menunggu, entah berhubungan atau tidak tapi apa salahnya kalo kita bisa jalanin, jalanin aja, seperti misalnya jangan makan coklat, jangan minum teh, harus bedrest, jangan banyak bergerak. Alhasil setelah 2 minggu menunggu, hasilnya negative, sedih, kecewa, kesal, semua jadi satu. Setelah mengetahui hasil yang negative kami kembali menemui dokternya dan ingin tahu apa rekomendasi selanjutnya. Ketika kami ketemu dokter utamanya, dia periksa lagi foto embrionya dan mengatakan bahwa embrio yang di transfer tidak dalam kondisi bagus, WHAAATTTT!!! Pdhal dia sendiri yang melakukan ET dan mengatakan kepada istri saya pada saat ET bahwa tersisa 1 embrio dengan kondisi grade A. Kami tidak bisa berbuat apa, menuntut dokternya? Sangat tidak mungkin, dan dokter itu lalu menyarankan untuk langsung lanjut IVF lagi dan kami langsung memutuskan tidak.

Setelah IVF pertama gagal, istri saya mencoba inseminasi lagi dan gagal, jadi total sudah 3x inseminasi, setelah gagal inseminasi, istri saya mencoba pengobatan akupuntur di Taiwan selama 1 tahun, juga tidak berhasil dan setelah dihitung2 pada akhir pengobatan, biayanya bisa kami pakai untuk 2x bayi tabung. Oh yah biaya IVF di Taiwan waktu kami melakukan IVF di Taichung totalnya kurang lebih NTD 120.000 (Rp 48jt dgn kurs saat ini, kalo dengan kurs saat itu Rp 36jt), ini sudah termasuk semua obat2an dari sejak kami menemui dokter itu dari bulan Januari 2011, murah yah?? Karena sebagian di cover sama asuransi dan obat2an seperti Gonal F disana lebih murah di banding Jakarta.

Setelah di timbang2 dan dipikir matang2, kayaknya kami harus balik ke Indonesia, pertama memang kondisi di Indonesia yang sangat mendukung, paling utama yah ada pembantu, bisa bantu kerjaan rumah, beda dengan waktu kami di Taiwan, kerjaan rumah kami kerjakan berdua dan bagi tugas. Juga situasi di Indonesia yang lebih relax. Tahun 2013 kami putuskan untuk menetap di Indonesia, semestinya kami rencana langsung bayi tabung di Indonesia setelah kami pulang ke Indonesia, tapi berhubung ada beberapa kerjaan yang masih mengharuskan saya bolak balik Taiwan, kami tunda dulu dan selama itu kami mencari informasi mengenai RS mana yang paling bagus dan suitable buat kami untuk bayi tabung.

Banyak dari teman saya yang menganjurkan untuk pergi ke KL, klinik TMC Damansara dan rata2 teman saya berhasil di sana dan juga ke Penang atau Singapore. Cuma saya pikir, ngapain jauh2 kesana, mesti bolak balik, belom lagi tempat tinggalnya dan juga ga ada kendaraaan pribadi, belom lagi biayanya yang pasti bengkak, akhirnya saya putuskan tidak. Prinsipnya, dimana2 sama aja, proses IVF sendiri itu sudah standard di seluruh dunia, yaitu pembentukan embrio di luar kandungan, sisanya terserah yang DIATAS. Terakhir ada yang menyarankan untuk ke Surabaya dengan Dr. Aucky karena salah satu teman saya baru berhasil di sana setelah mondar mandir bolak balik, Malaysia, Singapore, Jakarta dan terakhir di Surabaya dia berhasil. Tapi pertimbangan saya tetap seperti kalo misalnya kami harus ke Malaysia atau Singapore, repot bulak baliknya, tempat tinggal, kendaraaan, dll. Mungkin di Surabaya lebih mudah drpd di Malaysia atau Singapore tapi tetep aja, jauh dari Jakarta. Jadi akhirnya saya putuskan untuk tetap IVF di Jakarta dan pilihannya RS. Bunda dan RS. Family.

Oh yah, selama 2013 ini, kami direferensikan untuk pengobatan alternative. Yang merekomendasikan ini sudah 4 tahun gak punya anak dan berobat alternative dengan diurut selama 3 bulan lalu berhasil punya anak. Awalnya saya gak begitu percaya dengan pengobatan semacam ini, tapi saya pikir, ga ada salahnya dicoba dan juga lokasinya yang dekat banget dengan rumah kami. Kami target 3 bulan untuk pengobatan ini, bila tidak berhasil kami langsung lanjut ke IVF.

Singkat cerita 3 bulan pengobatan alternative ini tidak berhasil dan kami memutuskan untuk langsung IVF dan akhirnya saya memutuskan untuk program IVF di RS. Family Pluit. Pdhal teman saya yang berhasil dengan Dr. Aucky, baru saja program di RS. Family ini dan tidak berhasil tapi ini tidak membuat saya untuk berubah keputusan, karena yah itu, prinsipnya sama aja karena teorinya sama. Saya akhirnya pilih RS. Family Pluit ini karena paling dekat aksesnya dari rumah saya, oh yah, saya tinggal di Modernland, Tangerang. Dan memang tentu ada pertimbangan yang menguatkan saya juga untuk akhirnya memilih RS. Family Pluit ini, salah satunya, Dr. Muchsin Djaffar adalah Dokter pertama di Indonesia yang berhasil mengembangkan bayi tabung dan beliau adalah ahli embryologist, kami pun bertambah pede dan juga pelayanan RS khusus di Fertility Centernya terutama suster2nya yang ramah dan sangat kooperatif setiap waktu.

Kami memulai program di RS. Family bulan Februari 2014, kami langsung menemui Dr. Muchsin Djaffar sebagai kepala tim IVF RS. Family dan konsultasi dengan beliau, orangnya ramah, murah senyum dan murah ketawa dan tidak pelit untuk memberikan informasi. seperti biasa, istri saya disuruh cek darah untuk periksa hormon dan juga cek sperma saya ( ini cek yang ketiga, dua kali di Taiwan), hasilnya normal. Dan hasil darah istri saya, hormone FSH terlalu tinggi dan dokter memberi kami vitamin Ovacare ( untuk wanita) dan Oligocare (untuk pria) dan juga satu vitamin untuk istri saya yaitu DHEA, DHEA ini untuk menurunkan hormon FSH yang terlalu tinggi di hasil pemeriksaan istri saya. Dan juga kadar AMH istri saya yang sangat rendah yaitu cuma 0.3, yang mana kalau kadar AMH nya rendah, produksi telurnya juga semakin menurun. Menurut dokter, ini adalah pengaruh umur, dimana semakin tua kadar AMHnya semakin rendah. Pada saat proses IVF ini, istri saya sudah berumur 38thn. Tapi kami tidak patah semangat dan dokter terus menguatkan kami dan banyak doa semoga bisa berhasil. Berbekal informasi yang diberikan dokter, proses IVF diatas umur 35thn bisa mengecilkan persentase kemungkinan untuk hamil dibanding melakukan IVF dibawah 35thn.

Jadi yang masih menunggu, saya menyarankan untuk segera ikut proses bayi tabung sebelum semuanya terlambat. Saya juga awalnya berat untuk keluarin biaya bayi tabung tapi prinsipnya uang itu bisa dicari tapi umur gak bisa di beli. Jadi berapapun biayanya dan selama saya masih mampu, saya akan all out untuk program kali ini, karena umur yang terus bertambah, tau2 sudah kepala 4. Beruntung jaman sekarang ini ada program bayi tabung, yah paling ga untuk mencapai phase embrio aja udah terima kasih banget, paling ga sperma saya dan sel telur istri saya bisa menyatu menjadi embrio. Selain masalah biaya, saya juga tipe orang yang semuanya ingin normal, seperti halnya pasangan suami istri yang mempunyai keturunan, ini adalah hal normal. Begitu juga proses mempunyai keturunan, saya inginnya yang normal, tapi ada daya setelah 10 tahun menikah kami tidak bisa mempunyai keturunan dan satu2nya jalan yah IVF ini, walaupun sudah mengeluarkan biaya besar tidak menjamin untuk bisa mempunyai keturunan tapi paling engga kita udah berusaha, yang namanya berusaha pasti ada hasilnya dan itu pasti karena saya sudah mengalaminya dalam kehidupan saya, jangan menyerah.

Balik lagi ke proses IVF di RS. Family, setelah pemeriksaan hormon dan sperma, istri saya juga di sarankan untuk periksa saluran indung telur yaitu HSG, mereka menyarankan HSG di tempat yang paling dekat dengan rumah kami dan kami putuskan untuk HSG di RS. EKA BSD. Hasilnya normal dan tidak diketemukan sumbatan. Kedatangan berikutnya salah satu tim dokter menyarankan untuk Hysteroscopy, yaitu pemeriksaan ruang dalam rahim dengan camera, jadi bisa terlihat kondisi dalam rahim, dimana proses menempelnya embrio di rahim dipengaruhi oleh lingkungan rahim yang sehat dan bersih supaya embrio bisa menempel kedalam rahim dan terjadi kehamilan. Pada saat pemeriksaan hasil Hysteroscopy, ditemukan bercak2 putih pada dinding rahim dan dokter menyarankan untuk di kuret (Curretage). Kaget juga saya, soalnya image saya mengenai kuret ini adalah cuma pada saat orang keguguran atau hamil anggur, ini kok istri saya ga pernah hamil kenapa di kuret. Tapi ini jelas pandangan saya sebagai orang awam dan kami memutuskan untuk mengikuti saran dokter. 2 hari kemudian dilakukan kuret, agak cemas juga, soalnya setelah baca2 di internet mengenai kuret, banyak efek sampingnya kalo kuretnya tidak hati2. Tapi yang kami cuma bisa pasrah dan yang pasti saran dari dokter pasti mereka juga ingin yang terbaik untuk pasien2nya.

Setelah proses pra bayi tabung selesai, bulan maret tim dokter mulai spesifikasi untuk memeriksa jumlah follicle yang ada di indung telur, karena AMH yang rendah otomatis kondisi jumlah telur sangat terbatas. Pada bulan maret ini, cuma ada 4 follicle yang terlihat dan tim dokter menyarankan untuk menunggu bulan depan dengan harapan telurnya tambah banyak dengan menyarankan istri saya untuk tetap minum vitamin yang ada dan juga pada bulan maret ini istri saya sedang flu berat, jadi saya juga setuju dengan dokter. Pada bulan april, kami kembali cek follicle dan dokter menemukan 5 follicle dan diputuskan untuk memulai program IVF dengan pemberian suntikan Gonal F. Sebelum proses, suster memberikan briefing mengenai biaya2nya, yaitu dengan program paket, paketnya sebesar 60jt (April 2014) yang termasuk Gonal F, Cetrotide dan Pergoveris dan dengan jumlah takaran tertentu, jika pemakaian diluar takaran sesuai paket maka akan ada biaya tambahan dan harus lunas sebelum OPU.

Satu hal yang saya tidak temui di Taiwan ketika proses IVF kami yang pertama kali, yaitu tim dokter di RS. Family begitu care dengan perkembangan hasil penyuntikan obat2 hormon untuk IVF ini. 5 hari pertama, istri saya menyuntikan sendiri dirumah, setelah 5 hari, penyuntikan selanjutnya di lakukan di RS, hal ini dikarenakan tim dokter memantau perkembangan hasil penyuntikannya secara detail dengan USG day by day. Bilamana di USG terlihat telurnya kurang terstimulasi dengan obat2 hormon, maka dosisnya akan ditambah, bila dirasa sudah cukup, dosisnya akan dikurangi. Terus terang saya salut dengan yang bagian ini, karena di Taiwan sewaktu proses penyuntikan Gonal F dan lain-lainnya, istri saya lakukan sendiri straight tanpa datang ke dokter karena memang dokter menyarankan seperti itu, balik ke RS langsung OPU.

Hasil akhir dari penyuntikan, dosis yang diberikan melebihi standar dosis yang ada di paket, alhasil kami harus menambah biaya sebesar +/- 15jt, yang jadi menambah beban berat saya. Tapi yah karena memang harus dibayar yah kami tetap bayar dengan harapan apa yang kami sudah keluarkan tidak menjadi sia2.

Tiba saatnya untuk OPU, istri saya masuk ruangan untuk pengambilan telur dan saya proses pengeluaran sperma setelah itu saya menunggu diluar. Saya berharap2 cemas karena USG terakhir sebelum OPU, dokter memperkirakan hanya 3 telur yang bisa diambil, maksimal 4. Teringat waktu kami IVF pertama kali di Taiwan, hanya 4 telur yang berhasil di ambil dan hanya 1 embrio yang bisa masuk. Tapi saya pasrahkan saja dengan yang Diatas. Kurang lebih 20 menit, suster keluar untuk memberitahukan bahwa ada 5 telur yang berhasil di ambil dan saya sudah bersyukur mendengarnya, karena estimasi hanya max 4 telur yang bisa diambil. Tidak lama kurang lebih 5 menit kemudian susternya keluar lagi dan memberitahu bahwa akhirnya ada 6 telur yang bisa diambil. Saya makin senang karena menurut pemikiran saya, kesempatannya jadi lebih besar lagi dan saya sangat berterima kasih kepada tim dokter terutama Dr. Malvin Emeraldi (Dokter yang satu ini, ramahnya kebangetan alias ramah banget, friendly dan suka bercanda) yang sudah bersusah payah dan mengusahakan yang maksimal untuk kami berdua. Dan ternyata Dr. Malvin ini anaknya Dr. Muchsin Djaffar, ketua tim IVF RS. Family, jadi kualitas proses IVF di RS. Family Pluit, semakin memantapkan saya untuk terus melangkah, melanjutkan proses bayi tabung.

Pada hari ketiga setelah OPU, kami kembali ke RS untuk proses ET. Oh yah sehari setelah OPU dan menjelang ET, kami diberitahu oleh teman untuk berdoa di wihara yang ada Dewi Kwan Im, rencananya kami ingin sembahyang di wihara ancol tapi karena lokasinya yang jauh, akhirnya kami berdoa di wihara pasar lama, Tangerang. Bagian ini penting karena biar bagaimanapun, dokter dan manusia hanya bisa berusaha tapi tetap di Atas yang menentukan dan Dewi Kwan Im ini hanya perantara bagi kita untuk menyampaikannya ke Tuhan Yang Maha Esa ( ini berdasarkan kepercayaan saya dan istri ). Untuk yang beragama lain, intinya kita meminta kepada Tuhan atas usaha kita untuk mempunyai anak. Seperti anak yang ingin meminta sesuatu kepada orang tuanya, kalo anaknya ga pernah ngomong dan minta, orang tuanya juga tidak tahu kan keinginan anak, begitupula hubungan kita dengan Tuhan. Jadi banyak-banyak doa memang salah satu faktor keberhasilan bayi tabung. Terus terang selama ini saya tidak pernah berdoa di wihara, karena saya pun tidak pernah beribadah kemana-mana.
Kembali ke ET, sebelum pelaksanaan embrio, kami bertemu dan di briefing oleh Dr. Muchsin Djaffar selaku ketua tim IVF RS. Family Pluit mengenai perkembangan embrio dalam 3 hari terakhir. Dari 6 sel embrio di Hari pertama, semua berbentuk menajadi embrio, di hari kedua, 2 embrio rusak dan 4 masih membela menjadi beberapa sel dan hari ketiga, 2 embrio masih berkembang dan membelah lagi menjadi beberapa sel dan 2 stuck alias kondisinya sama dengan hari kedua. Dokter menanyakan kepada kami, berapa embrio yang kami inginkan untuk ditransfer dan kami berdua langsung menyebut angka empat, karena menurut pemikiran awam kami, makin banyak makin besar peluangnya. Dan dokter pun setuju untuk memasukan 4 embrio tersebut dan di estimasi kemungkinan untuk 4 embrionya jadi janin hanya 1 persen dan kami pun gak masalah, yang penting ada yang bisa jadi janin kami sudah sangat bersyukur.

Sesudah proses ET, kami berencana agar istri saya untuk bedrest total dan memutuskan untuk stay di RS. Family untuk beberapa hari, ini demi menjaga proses transfer dan penempelannya berlangsung sesuai harapan kami. Dokter sih menyarankan tidak perlu karena memang secara medis tidak terbukti hal ini bisa membantu. Tapi kami ikutin aja suara hati dan kamipun memutuskan untuk tetap stay selama beberapa hari di RS. Setelah stay 3 hari 2 malam di RS, kami pun kembali ke rumah dan istri saya benar-benar bed rest total. Hanya ditempat tidur dah tidak kemana2 bahkan mandi pun hanya pakai handuk basah. Kembali kepada dunia medis, Dokter memberitahu kami bahwa bed rest tidak secara medis terbukti dapat menambah prosentase keberhasilan bayi tabung tapi menurut pengalaman kami dan saran dari teman-teman, bedrest ini penting juga dan terbukti menjadi salah satu faktor keberhasilan bayi tabung.

Selama bedrest, berikan perhatian lebih kepada istri dan ini tugas suami, supaya istri relax dan tidak penuh tekanan, berikan pijatan2 atau peluk dengan penuh kasih saying, jangan biarkan istri turun dari tempat tidur sedikitpun, kecuali untuk buang air dan itu pun harus berjalan dengan sangat hati2. Beruntung saya memiliki waktu banyak untuk menemani istri saya, karena saya ingin all out kali ini dan mengajukan cuti yang sangat panjang, balik lagi pada prinsip saya “uang bisa dicari, tapi umur ga bisa dibeli dengan uang”. Bagi yang tidak bisa cuti, bisa panggil saudara atau pembantu untuk melayani kebutuhan istri selama bed rest.

Tips lainnya adalah bicara dengan embrionya, baik itu oleh suami anda atau istri anda, buat saya, setelah penyatuan sperma dan sel telur, maka terbentuklah embrio, nah setelah proses terbentuknya embrio ini lah, si embrio sudah mempunyai roh dan jiwa dan wajib diajak bicara. Salah satu kalimat yang saya sering ucapkan hampir setiap hari adalah “Semoga kamu bisa berkembang jadi janin, papa mama sudah menunggu lama dan berusaha keras untuk memiliki kamu, terus berkembang dan terus berkembang dari embrio ke janin dan lahir dengan selamat dan sehat”. Tips ini agak janggal memang, tapi apa salahnya untuk berusaha dan tips ini sudah kami sebarkan ke sahabat-sahabat kami yang juga susah punya anak bahkan telah gagal beberapa kali di program bayi tabung. Salah satunya teman istri saya di Taiwan yang sudah berkali-kali gagal proses bayi tabung ini, istri sayapun memberi semangat agar segera melakukan bayi tabung lagi dan ajak bicara embrionya setelah proses ET dan berhasil.

2 minggu setelah proses ET telah kami lalui, gak tega lihat istri saya yang benar2 terbaring sampai 2 minggu demi menunggu si buah hati. Satu hari sebelum kembali ke RS Family untuk test pack, kami berpikir untuk test pack di rumah, tapi takut hasilnya tidak sesuai harapan, maka kami putuskan untuk menunggu sampai esok hari. Oh yah, beberapa hari sebelum test pack, (maaf) daerah sekitar puting istri saya terdapat benjolan-benjolan dan saya rasa ini adalah pertanda kehamilan, pada saat itu saya belum tahu kalau itu tanda2 hamil, saya baru sadar kalau itu tanda-tanda kehamilan setelah kehamilan bbrp minggu, benjolan2 itu semakin banyak dan besar.

Hari H, kami bangun pagi2 sekali karena semalaman sudah tegang antara jadi atau tidak jadi, sepanjang perjalanan saya dan istri sudah menyatakan puas dengan hasil kerja keras tim dokter RS. Family, walaupun seandainya tidak berhasil kami tetap akan mengucapkan terima kasih kepada tim dokter RS. Family, kenapa? Karena kami bandingkan sewaktu kami program bayi tabung pertama kami di Taiwan pada tahun 2011, tim dokter di RS. Family benar-benar care dan lebih detail dalam usaha membantu kami untuk mendapatkan anak. Betapa tidak, test demi test dilakukan untuk memastikan program bisa berlangsung lancar, terutama pada saat proses penyuntikan dan pemberian vitamin yang tepat selama proses pra bayi tabung.

Tiba di rumah sakit, kami makin tegang, istri saya lalu diambil air seninya dan dibawa kedalam, dan kami hanya berharap2 cemas, istri saya sangat tegang sekali waktu itu dan saya mencoba untuk tenang dan mencoba meyakinkan istri saya, kalau kita sudah berusaha, kalaupun sampai gagal, kita akan coba lagi, pokoknya kali ini kami bakal all out terutama dalam segi biaya. Tak lama setelah suster membawa air seni kedalam, suster memberi tahu saya via Whatsapp bahwa hasilnya sangat amat terang dan kemungkinan kembar. Langsung pecah ketegangan saya saat itu, serasa saya ingin memeluk semua orang yang ada didekat saya. Suster rencana menyarankan saya untuk kasih surprise ke istri saya dan jangan langsung kabarin dia setelah saya menerima kabar dari WA. Tapi pas melihat raut wajah istri saya yang sangat amat tegang banget, saya cium pipinya dan bilang ke dia bahwa hasilnya positif, pecahlah tangis kebahagiaan istri saya dan saya pun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan saya, pecah lah air mata saya. Dan 2 hari lagi setelah kabar bahagia ini adalah ulang tahun perkawinan kami yang ke 10. Hari itu adalah hari yang sangat amat bahagia buat kami, pengorbanan biaya, waktu dan pikiran terbayar sudah. Dalam hidup saya, tidak ada hari yang seindah hari itu.

Yang pertama saya kabarin selain istri saya yaitu orang tua saya, mama saya pun menangis bahagia, maklum ini cucu pertama mereka yang sangat mereka tunggu2. Bagi sebagian orang Taiwan, pemberitahuan kehamilan adalah setelah 3 bulan kehamilan, tapi begitu sampai dirumah, istri saya hanya memberitahu orang tuanya. Tunggu sampai 3 bulan baru kasih tahu semua keluarga dan teman dekat. Hari itu kami seolah-olah tidak percaya dengan hasilnya saking senangnya, bukannya tidak percaya dengan test pack tapi seolah-olah kami sedang bermimpi dan benar-benar mujizat kalo istri saya bisa hamil, istri saya pun benar-benar tidak menyangka bahwa perjuangan kita telah membuahkan hasil. Sampai hari ini pun kadang-kadang saya berasa tidak percaya kalo saya akan segera menimang si kecil (tulisan ini dibuat ketika istri saya sudah mengandung 9 bulan).

Dan setelah mengetahui kabar positif ini, saya baru merasakan bahwa tekanan batinnya jadi makin besar, si embrio belom berkembang sepenuhnya, masih banyak liku-likunya. Saya jadi lebih tertekan dibanding menunggu hasil selama 2 minggu kemarin itu. Selama 2 minggu menunggu hasil, saya bawa santai, saya tidak ingin terlalu memikirkan karena betapapun stress dan tegangnya kita menunggu hasil, tidak akan merubah keputusan Tuhan untuk memberikan kita keturunan atau tidak. Jadi yah saya bawa santai aja, kalo gagal tinggal coba lagi dan saya juga selalu menasehati istri saya supaya tidak terlalu tegang, just relax and let God take care the rest tapi sebenernya tetap aja tegang tapi tidak setegang dan tertekan waktu proses IVF pertama kali.

Sejak hasil test pack positif, kami dianjurkan untuk memeriksa kandungan seminggu sekali agar dokter bisa memonitor perkembangan embrio dengan seksama. Pertama kali USG sejak dinyatakan positif, dokter melihat dua kantung janin di rahim istri saya dan hasilnya memang benar-benar kembar. Thanks God, seandainya dapat satu pun kami sudah sangat bersyukur, tapi ini dikasih 2 sekaligus, PAHE, Paket Hemat, bayar 1 dapat 2.

Lepas 3 bulan, kami sudah tidak rutin memeriksakan kandungan ke dokter tapi pas setelah lepas 3 bulan, istri saya keluar flek merah yang lumayan banyak, bagai disamber petir, kami kuatir sekali karena ini pertama kali istri saya hamil dan masih newbie jadi masih bener-bener awam dan pada saat itu lagi libur lebaran. Beruntung tim IVF di family punya suster-suster yang baik hati dan siap setiap waktu. Saya WA salah satu suster senior, beliau menyarankan untuk langsung ke RS untuk cek dan menanyakan kondisi istri saya pada saat keluar flex, beliau bilang tidak bahaya tapi tetap menyarankan kami untuk datang.

Hari berlalu, sampai tiba waktunya dan tinggal menghitung hari. Oh yah, tips buat calon papa mama, jangan pernah capai atau malas untuk berbicara ke jabang bayi, roh dan jiwa mereka sudah disekitar kita. Bicara lah yang baik-baik seperti kita sedang menasehati anak kecil seperti misalnya jangan bandel di dalam, tetap sehat dan berkembang karena papa mama sudah menunggu lama sekali dan sudah gak sabar untuk melihat kalian, jagain mama supaya tidak terjadi apa2 selama kehamilan dan waktu melahirkan.

Sekedar tips untuk memilih klinik bayi tabung berdasarkan prinsip dan pengalaman saya,
Pada dasarnya prinsip bayi tabung adalah menyatukan sel sperma dan sel telur di luar rahim, jadi semua dokter memiliki metode yang sama, hanya bisa menghantar sampai embrio dan penanaman embrio, selanjutnya terserah Yang Maha Kuasa. Jadi saran dan ajakan teman kami, untuk program bayi tabung di Kuala Lumpur, Penang, Singapore, Surabaya, dll tidak kami jalankan karena satu yaitu repot bulak balik, belom lagi mesti sewa apartemen dan harus stay didaerah asing, rumah sendiri adalah tempat yang paling nyaman dan relax. Saya memilih RS. Family Pluit karena aksesnya yang paling dekat dari tempat saya tinggal, yaitu di Tangerang dan saya beruntung karena Tim IVF di RS. Family memang benar-benar mengutamakan kekeluargaan, teliti dan detail, menjaga hubungan yang baik dengan pasien-pasiennya membuat kami nyaman disana. Ini penting, karena bila kita tidak mendapatkan pelayanan yang ramah, seperti misalnya melihat suster yang jutek atau dokter yang tidak informatif, saya mungkin bisa langsung pindah ke RS lain. Bayangkan, pertama kali kita memutuskan untuk ikut program bayi tabung aja, tegangnya udah amat sangat, ketemu pelayanan yang tidak sesuai, emosi bisa gampang naik.

Tim dokter dan tim suster di RS. Family Pluit, patut kami acungin jempol, bahkan bila tidak berhasil pun, kami puas dengan pelayanan mereka. Terima kasih yang sangat tidak terhingga kepada tim dokter dan tim suster RS. Family Pluit yang turut berjuang bersama kami dalam mencapai keinginan kami untuk mempunyai keturunan. Suster yang ramah dan ringan tangan susah dicari, keramahan mereka tidak bisa terbayarkan oleh uang, kami hanya bisa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada beliau-beliau ini. Semoga Tim IVF RS. Family tetap selalu membantu pasangan yang susah mempunyai keturunan.

PS:
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada tim dokter IVF RS. Family,
Dr. Muchsin Djaffar, Sp.PK selaku ketua Tim IVF RS. Family atas pelayanannya yang ramah dan informative.
Dr. Malvin Emeraldi Sp.OG (dokter gaul, enak bercanda dan skillnya yang top dan tidak diragukan lagi, beliau ini dokter favorit kami selama program di RS. Family, orangnya ramah banget dan gaul banget. Terima kasih banyak yah Dr. Malvin atas usahanya mengambil sel telur istri saya secara maksimal dan dengan sempurna mentransfer embrio ke rahim istri saya)
Dr. M. Luky Sp.OG (dokter cool dan sangat kooperatif, terima kasih banyak yah dok, yang sudah berhasil kuret istri saya)
Dr. Yuslam Sp.OG (dokter senior yang senang bercanda dan murah senyum, terima kasih banyak dokter atas bantuannya selama kami ikut program)
Dr. Yuli (dokter junior yang tadinya saya pikir seorang suster hehehe, terima kasih banyak yah dokter atas bantuan dan perhatiannya)
Juga saya mau mengucapkan terima kasih banyak kepada tim suster IVF RS. Family:
Suster Astina, suster senior yang ramah, informative dan selalu membalas WA saya bila saya bertanya-tanya. Suster Astina sangat amat banyak membantu kami mengatasi masalah dan pengarahan untuk pertolongan pertama bila terjadi apa-apa. Terima kasih banyak atas perhatiannya sejak kami pertama kali datang ke RS. Family sampai lahirnya si kembar.
Suster Dian, suster yang murah senyum dan yang pertama kali memberitahu saya via WA kalo hasil test urine istri saya positif dan tebakan beliau pun sangat tepat, hasilnya kembar. Terima kasih banyak yah suster, semoga amal dan budi baiknya bisa dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Juga terima kasih kepada tim suster (Suster Hani, Suster Sri) dan tim laboratorium IVF RS. Family Pluit (Dr. Dianing Amalia, Ine, Anggun Dan Esti).

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading...Loading...

posted in Berhasil hamil, Biaya, Jakarta, Pengalaman di klinik/rumah sakit, Pengobatan alternatif, Proses | 32 Comments


26th January 2015

Bayi tabung di Klinik Permata Hati Sardjito Yogyakarta, Azoospermia – Safitri

  1. Mens tgl 31 desember 2014 malem, ketemu dr. SW, karena tgl 1 januari libur maka, diganti tgl 2 januari, pemeriksaan usg transvaginal, diresepkan suntik gonal f 225 iu, pengalaman suntik diperut ternyata gak sakit, biasa aja kok, so dont worry, be happy setiap suntik tarik nafas aja yg panjang ok. Suster2 di klinik permata hati baik2 kok, welcome bgt apalagi kalo kita smile….hehehe
  2. Tgl 3-5 Januari jam 9.00 suntik gonal f 225 iu lagi yey, tetep happy, jgn stress
  3. Tgl 6 Januari jam 9.00 usg transvaginal untuk melihat ukuran sel telur, jam 11.00 baru dipanggil utk usg, selama dr.SW periksa ukurannya bervariasi mulai dri 10 mm-15 mm, lalu dijadwalin mulai suntik gonal f 225 iu dan centrotide (tujuannya biar sel telurnya gak pecah), selesai suntik aku sempetin ke jogja city mall, buat nonton pendekar tongkat emas, intinya dibikin fun selama program bt nih. Gak mau mikirin yg aneh aneh,hanya jalanin program sehappy mungkin.
  4. Tgl 7 Januari jam 9.00 suntik gonal f 225 iu dan centrotide lagi ya
  5. Tgl 8 januari jam 9.00 ketemu dr.embiolog, dr embriolog membantu kita menjelaskan seputar proses bayi tabung mulai dari awal proses sampai tindakan akhir bayi tabung, dr. Embriolog juga jelasin secara psikologis santai aja, jangan stres biar tubuh rilex dan tenang, sehappy mungkin, lakukan terbaik selama program sebelum dan saat et, pasca et pasrah atas kekuasaan Alloh, mengingat kita sebagai manusia telah melakukan yg kita mampu dan bisa. Setelah diberi penjelasan, kami bertemu dgn dr. SW, dengan maksud mengukur perkembangan sel telur saya, ternyata ukurannya sudah besar2, antara 17 mm – 12mm, jadi dr. SW tidak memberikan suntik gonal f lagi, sel telur dikatakan matang dengan ukuran 18 mm, saya dijadwalkan OPU 2 hari berikutnya, namun saya diharuskan melakukan pengambilan darah di lab Klinik permata hati dan anastesi, tujuan untuk melakukan bius pada saat OPU, biaya saat OPU ini cukup besar sekitar 20 jt. Jam 21.00 saya disuntik ovidrel 1 ampul di perut, tujuannya agar telur pecah saat 36 jam kemudian, makanya saya dijadwalkan OPU hari sabtu jamnya pun tepat 9.00 wib.
  6. Tgl 10 Januari 2014 jam 9.00 wib sabtu, sudah sampai di rs klinik permata hati, untuk OPU, diwajibkan puasa mulai dari kemarin malem jam 12 mlm sampai mau OPU, dengan maksud saat dibius semua organ tubuh bagian dalam tidak bekerja mencerna makanan, dengan harapan OPUnya lancar. Saat OPU tiba saya sudah datang jam 8.00 pagi, berangkat dari rumah jam 7.30, jam 8.30 saya diajak mengganti baju, kemudian dibawa k ruang operasi, boboan cantik trus dibius deh, bangun bangun sudah selesai, bangun bangun jam 12.00 kepala rada pusing dan masih ngantuk banget, trus suami udah nunggu didekatku, makein baju dan pulang deh, tpi sebelumnya diberi obat crinon yang digunakan setiap malam, katanya dokter untuk mempersiapkan rahim agar siap ditempeli embrio saat ET. Saat OPU saya diberi tahu suami jumlah sel telur saya 7 buah. Sampai rumah masih ngantuk banget, dilanjut deh dirumah ampe jam 15.00
  7. Tgl 13 Januari jam 10.00 wib, hari selasa, saya dijadwalkan untuk ET / embrio transfer. Diawali dengan menganti baju kemudian diajak ke ruang operasi bersama suster v, dan saya ditidurkan, selama proses ET, saya tidak tahu kwalitasnya excelent, good, moderate atau poor, saya hanya diberi tahu jumlah embrio saya 2 yang bagus, selama proses ET saya hanya merem, khwatir melihat alat alat bedah dll, pokoknya stay calm, percaya dr akan melakukan yg terbaik, embrio yang ditanam 2, waktu yang dibutuhkan selama et hanya 20 – 30 menit, setelah ET saya disuruh tetap berbaring selama 2 jam, kemudian dipindahkan ke ruang istirahat dimana suami diperbolehkan untuk menemani. fine2 aja, yang gak nyaman buat saya, harus pipis di pispot bikin risi, tapi gakpapalah gimna lagi. Setelah 2 jam saya pulang bersama suami, sepanjang perjalanan suami menyetir dengan pelan, dan menghindari jalan yang berlubang
  8. Tgl 10 – 25 januri 2015 tiap malem sebelum tidur menggunakan crinone jel progesteron lewat vagina, disaat pasca et ini yang menurut aku paling mendebarkan, menanti pengumuman hamil tidaknya, tapi saya harus siap apapun hasilnya, positif thinking aja sama Alloh kalo belum berhasil ya dicoba lagi, seperti teman teman di forum bayi tabung yang sangat menginspirasi kalo yang sekali bayi tabung langsung berhasil memang itu rejekinya, dan kalo belum berhasil rejekinya masih tertunda. Emosi naik turun, badan rasanya pegel,perut sakit, komplit deh, auranya mau mens atau positif hamil gak berbeda sama sama badan gak enak.
  9. Tgl 26 Januari 2015, pagi jam 9 ambil darah dan tunggu pengumuman, sip apapun hasilnya positif ataupun negatif, paling tidak selama program saya sudah melakukan hal terbaik, bedrest 3 hari, tidak banyak bergerak, makan protein (ikan,telur,daging), minum sari kacang hijau dan alpokat dll, sesekali masih ngemall itupun seminggu pasca et, yang saya ingin tahu bila berhasil alhamdulillah dan bila belum saya harus berusaha lagi bersama suami, dan menanyakan penyebab kegagalan bayi tabung pertama saya, agar di bayi tabung kedua tidak terulang. Saya bersyukur memiliki suami yang sangat memotivasi saya, disaat saya sedang jatuh dan tidak kuat dengan cobaan-Nya, suami selalu menguatkan saya untuk selalu positif thinking dan tidak menyalahkan keadaan,diri sendiri ataupun Alloh S.W.T, berusaha sabar dan terus berusaha + berdoa. Saya juga berterima kasih kepada pihak Klinik Permata Hati telah berusaha melakukan yang terbaik apapun hasilnya.
  10. Dibawah ini perincian biaya Bayi Tabung :
    Hari Tanggal Pemeriksaan Jumlah Total Biaya Total
    Senin 22/12/2014 prolaktin dan amh Rp 765.000 Rp 765.000
    Rabu 24/12/2014 Periksa dr. sw : rahim komplit Rp 414.500 Rp 414.500
    Jumat 02/01/2015 periksa dr sw : mens+2 Rp 486.000 Rp 486.000
    gonal f 225 iu Rp 1.740.000 Rp 1.740.000
    Sabtu 03/01/2015 gonal f 225 iu Rp 1.740.000 Rp 1.740.000
    Minggu 04/01/2015 gonal f 225 iu Rp 1.740.000 Rp 1.740.000
    Senin 05/01/2015 gonal f 225 iu Rp 1.740.000 Rp 1.740.000
    Selasa 06/01/2015 gonal f 225 iu Rp 1.740.000 Rp 1.740.000
    centrotide 1 ampul Rp 615.000 Rp 2.355.000
    Rabu 07/01/2015 gonal f 225 iu Rp 1.740.000
    centrotide 1 ampul Rp 615.000 Rp 2.355.000
    Kamis 08/01/2015 centrotide 1 ampul Rp 615.000
    ovidrel 1 ampul Rp 730.000
    Cek lab anastesi Rp 309.000
    dr. anestesi Rp 103.000 Rp 1.757.000
    Sabtu 10/01/2015 OPU (Ovum Pick Up) Rp 19.500.000
    Selasa 13/01/2015 ET ( Embryo Transfer) Rp 6.500.000 Rp 26.000.000
    Rp 42.832.500
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading...Loading...

posted in Biaya, Obat, Proses, Sperma bermasalah, Yogyakarta | 24 Comments


14th January 2015

Bayi tabung pertama dengan dr Aucky Hinting – Maryamah

Usia saya 24tahun, usia suami saya 26 tahun. Dan usia pernikahan kamipun baru saja 1 tahun . Setiap saya kontrol le dr aucky terus ketemu pasien yang lain, mereka selalu berkata “masih muda ko sudah ikut” saya sendiri sebenernya belum siap di usia semuda ini harus menjalankan program ini. Beda dengan sekarang, saya sudah yakin dan siap dengan segala proses yang harus saya tempuh. Suami saya Oligoasthenoteratozoospermia berat. Jumlah , bentuk dan gerak sel sperma nya betul betul dibawah normal. Awal kontrol dokter aucky sudah bilang ini harus segera bayi tabung, tapi saya dan suami masih berharap bisa diobati. Waktu itu suami dikasih vit vitan dan satu lagi saya lupa. Memang dari awal berobat awalnya nol sel. Akhirnya meningkat menjadi 0,2% . Lalu sebulan kemudian turun menjadi 0,1% . Setelah itu tanpa pikir panjang saya dan suami memutuskan “ok kita jalani program ini”.

Tanggal 20 desember 2014 saya check usg dan pemeriksaan darah. Ada 13 point yg diperiksa, sehingga darahua yg diambil banyak sekali. Saya sampai pucat keringet dingin. Mungkin karena gugup dan gak pernah diambil sebanyak itu. Setelah itu saya di usg oleh dokter ason, satu team dengan dr aucky juga. Kondisi telur saya ada 4 di kiri dan 1 dikanan. Jadi totalnya 5. Dan kondisinya baik baik aja. Hanya waktu itu dokternya blg kondisi letak ovarium saya “agak njelimet” jadi waktu di usg perut rasanya kaya di aduk aduk geli banget asli deh.
Setelah itu suster yg jaga langsung bilang saya jgn pulang, karena siang jam 12 dr aucky datang. Alhamdulillah jadi saya gak bolak balik.

Tibalah dr aucky membacakan hasil tes tes saya yg sebanyak banyak itu tadi. Dr aucky mengatakan kondisi rahim dan pemeriksaan saya baik semua. Kondisi telur juga baik. Saya punya cadangan 5. Jadi mulai sore jam 6 saya langsung di proses untuk suntik gonal 2 ampul. WOW sangat sangat cepet sekali dalam sehari saya melalui proses sekaligus. Tanggal 24 des saya jam 7 pagi ke siloam untuk teat darah dan usg untuk melihat keadaan telur. Waktu usg saya dengan dr mona. Saya tanyakan katanya jumlah telur saya banyak (gak dibilang brp) besarnya rata rata 10mm (saya baru 4x suntik gonal , ukuran seperti itu sudah lumayan bagus untuk yg baru melalui 4x kata beliau )
Jam 11 siang saya ketemu dengan dr aucky untuk dibacakan hasil. Ternyata aucky blg dosis ampul saya perlu ditambah setengah. Biasanya 2 ampul , skrg 2,5 ampul. Waduh! Saya tanya kenapa begitu. Katanya hormon saya hanya diangka 300. Normalnya 400 (karena penjelasannya singgkat, saya juga agak gak paham apa maksudnya) lalu dia blg telur saya bagus. Malah besar besar. Jadi perlu ditambah suntik anti pecah telur . Biar gak pecah duluan. Sambil menyeimbangkan hormon.

Tgl 27 saya uSG yg ke dua setelah proses suntak suntik. Sekalian priksa darah. Waktu di usg saya agak gugup. Dalam hati apa telur saya sudah besar apa belum. Ternyata benar. Jumlah telur saya ada 10. Tapi besarnya rata rata hanya 15mm paling besar cuman 17mm. Agak sedih rasanya. Akhirnya dr aucky blg saya masih perlu suntik gonal 2x lagi. Berarti seluruhnya saya 9x suntik gonal.
Oh iya, saya juga skrg mulai katering khusus bayi tabung. Dengan bu dini. Makanannya enak , dan sangat banyak sekali. Untuk 10hari (3x makan sehari) biaya nya 750.000.

Eng ing eng. tanggal 31 januari 2014. Tibalah saatnya saya OPU. Dateng pagi pagi jam 6 sudah registrasi dll, saya menunggu datangnya panggilan susternya. Saya kebetulan dapat giliran ke dua. Kurang lebih stengah7 saya sudah dipanggil. Langsung ganti baju operasi. Saya dipasangi infus, dan dimasukan obat kurang lebih 15 menit, saya mulai di “eksekusi” waduhhhh rasanya deg deg an. Ruangannya dingin , mulai lah dokter hendro menjalankan tugasnya. Jangan tanya rasanya seperti apa , yg pasti begitu alatnya masuk, itu kaya sakit gigi tapi ada di perut. Nyilu sekali. Saya pun keringat dingin dan sangat mual luar biasa. Hampir saya tidak bisa menahan untuk tidak muntah, karena perut saya sakit juga saya lalu dipasangkan oksigen. Entah gara gara apa saya merasakan mual yg luar biasa. Pdhl yg lain biasa biasa aja katanya. Kurang lebih 15 menit , selesai sudah proses opu. Tapi karena kondisi saya agak lemah, saya masih berbaring sambil dikasih teh sama suster susternya.ya Allah, memang nikmat engkau tidak ada yang terdustakan. Sungguh dalam hati hamba hanya bisa mengingat kuasamu. Hasil opu , dari 25 telur yg diambil. Hanya 10 yg isi .

Tanggal 4 januari jadwal saya ET, jam stengah 7 sudah smpai di siloam. Suster memberi tahu bahwa dari 10 yg dibuahi, hanya 4 yg menjadi blastosis (embrio hari ke5). Sekanjutnya saya disuruh minum air minal 600ml sambil nunggu antrian. Sampai jam 8 belum juga ada tanda tanda mau dipanggil , akhirnya saya tidak tahan lagi untuk pipis, setelah saya ijin suster saya diperbolehkan pipis separo, bayangin gimana caranya pipis separo :)))) trus nunggu lagi, sampe saya kembali kebelet pipis, jam stengah 9 saya kembali dipanggil suster untuk segera ET, ganti baju operasi dll saya langsung dibawa keruang tindakan. Begitu dr hendro masuk , beliau langsung menjelaskan mau dimasukan embrio nya. Bergetar hati saya begitu melihat dilayar usg ada gambar embrio nya. Berwarna putih kalo dilayar. Subhanallah. Sungguh kuasa Allah menciptakan tekhnologi.
Sekarang sudah hari ke 8 pasca ET, 2 hari lagi pembagian raport. Deg deg an. Oh iya kmrn saya hanya sekali disuntik penguat. Dikarenakan perut saya sedang kembung dan berasa penuh. Atas saran dr aucky tidak perlu disuntik lagi. Takutnya OHSS, jadi cukup pakai crinone saja kaya beliau. Semoga saya positif .

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading...Loading...

posted in Obat, Pengalaman di klinik/rumah sakit, Proses, Sakit saat BT, Sperma bermasalah, Surabaya | 74 Comments


11th January 2015

Pengalaman bayi tabung Klinik Teratai Gading Pluit Jakarta – Stephanie

Hai teman-teman, saya mau bercerita mengenai pengalaman saya selama menjalani bayi tabung di Klinik Teratai oleh Dr. Irsal Yan.
Umur saya 29 tahun ketika menjalani bayi tabung, saya sangat merindukan anak. Saya pernah keguguran 1x di usia 6 minggu tepat 2 hari setelah tespak saya positif, dan itu menimbulkan kepahitan bagi saya, karena saya sempat minum kopi, sushi, masih pilates, lari naik turun tangga, dan lainnya sehingga saat saya keguguran pun saya tidak begitu sadar sedang keguguran. Dan itu menimbulkan penyesalan yang sangat dalam di hati saya kenapa tidak lebih berhati-hati saat hamil. Ketika muncul setetes darah saat beraktivitas beberapa hari sebelumnyapun saya tidak curiga. Suami saya hanya bilang itu normal. Mulas-mulas dan pusing pun saya tidak curiga. Walaupun dokter mengatakan itu lebih karena persoalan telur yang terbentuk tidak sempurna, tapi saya tetap merasa sebagian kesalahan saya. Doa saya hanya Tuhan anak saya yang pertama ini tanamkanlah kembali pada rahim saya sebagai anak saya yang ke2, saya akan lebih baik menjadi seorang ibu.

Setengah tahun kemudian saya tidak kunjung hamil, saya mulai konsultasi kepada dokter, di Jakarta maupun di Bandung, diagnosanya mengenai tuba falopi saya tersumbat 1, yang menjadikan kesempatan saya berkurang 50 persen dari wanita normal lainnya. Kemungkinan tertutupnya karena infeksi lama atau saat saya dikuret menyebabkan tertutup. Selain itu saya didiagnosa PCOs, dimana telur saya sangat banyak sehingga nutrisi yang masuk ke telur kurang. Telur saya kecil-kecil. Biasanya supaya terjadi kehamilan butuh ovum berukuran 18 mm ke atas, sedangkan di saat matang telur saya berukuran kurang lebih 11 mm. Semakin saya berusaha dengan makan yang baik, relax dengan suami dll malah telur saya semakin kecil. Mungkin tanpa sadar saya masih stress. Kalau orang bilang jangan stress, sebenarnya malah tambah membuat stress, karena saya tidak tahu bagaimana caranya supaya tidak stress. Program hamil itu butuh mental yang kuat. Dan saya akui saya kurang penyerahan kepada Tuhan saat itu.

Setengah tahun kemudian, saya memutuskan untuk ikut bayi tabung saat sedang promo di Klinik Teratai Kelapa Gading. Suami saya sangat baik, dia mendukung apa keinginan saya yang dapat membuat saya bahagia. Uang kami tidak berlebihan dan bayi tabung akan menghabiskan tabungan kami, saya memikirkan apakah saya harus jalani atau tidak program ini. Kantor saya barusan tutup dan merugi, saham yang kami mainkan kecil-kecilan nilainya jeblok. Saya berdoa sungguh-sungguh pada Tuhan. Kemudian di hari terakhir promo, malamnya teman saya memberikan buku berjudul “Nothing is Impossible” oleh Ps. Juan Mogi, buku yang lama dia janjikan untuk berikan kepada saya, hanya saja saya tidak mengetahui isinya. Beliau juga menjalani bayi tabung, dan mempunyai pengalaman iman yang luar biasa. Saya mengamini dan menganggap itu jawaban Tuhan untuk saya, dan kami mantap menjalani bayi tabung. Saya dan suami pun mendaftar di Klinik Teratai dengan Dr.Irsal Yan. Kami memilih klinik yang dekat rumah supaya dekat bolak baliknya. Dokter ini tegas, kebapakan dan berpengalaman. Orangnya cukup berhati-hati. Mula-mula dia juga menganjurkan supaya kami menjalani program tradisional dulu daripada langsung bayi tabung. Tapi kami tetap ingin menjalani bayi tabung, karena lebih tidak bersifat invasif dibandingkan laparoskopi untuk membuka penyumbatan. Dalam tes hormon diketahui hasil hormon saya berkebalikan (tidak pada umumnya) saya juga kurang mengerti. Dokter Irsal bilang orang asia itu aneh–aneh kasusnya. Sedangkan suami saya puji Tuhan hasilnya baik.

Sungguh bayi tabung membutuhkan kesiapan mental dan sikap yang positif. Disini kita harus menyuntik diri sendiri dalam proses penipisan rahim dan penyuburan telur. Rasa sakit akan terobati saat membayangkan si mungil yang akan berada di rahim kita. Doa dan kepasrahan harus mengiringi proses ini. Saat proses penipisan, terbentuk kista/ myom di rahim saya. Saya tidak tahu apakah ini pengaruh dari obat suntikannya atau tidak. Sayapun harus menjalani penyedotan kista. Biayanya sekitar 6 juta rupiah. Kemudian ternyata telur saya yang jumlahnya banyak itu menimbulkan akibat positif negatif. Ketika diberi penyubur, menimbulkan OHSS. Reaksi berlebihan terhadap penyubur. Jumlah telur subur saya banyak sekali dan besar-besar, akan tetapi setiap hari saya harus mengonsumsi 15 putih telur ayam kampung dan pujimin(pil ikan gabus), juga susu tinggi protein. Semuanya untuk pencegahan OHSS, yang ternyata kurang berhasil juga. Saat OPU, ovum yang berhasil diambil berjumlah 38, dan oositnya 23 buah. Saat hendak penanaman embrio/ ET, badan saya mengalami gejala OHSS seperti mual, kembung, perut penuh dan kencang, sesak nafas. Dokter tidak berani memastikan apakah hendak ET sesuai jadwal, karena takutnya kondisi saya semakin parah. Saya sedih juga, karena bagaimanapun juga lebih baik proses dengan first cycle daripada thaw cycle. Selama 3 hari kami berdoa, dan saat hari ET kami harap-harap cemas apakah dokter membolehkan. Hasil tes labnya baik dan kembali normal. Embrio kami ada 10 yang excellent, 4 good, 2 moderate, kami bersyukur sekali untuk kejadian Tuhan yang baik. Dokter pun memutuskan ET sesuai jadwal, 2 embrio dimasukkan dalam rahim saya. Ketika dimasukkan embrio saya sudah mulai batuk-batuk. Tapi dalam proses ET,saya berdoa lagi. Dokter berkata saat ET kita harus sangat tenang, karena itu akan mempengaruhi hasilnya. Setelah 2 jam istirahat di kamar, saya dan suami pun pulang. Kaki lupa saya naikkan ke atas sesuai pesan suster, malah saya tertidur di kamar tindakan.

Setelah ET, tidak terjadi apa-apa sampai hari ke 7,setelah itu tubuh saya memburuk dengan cepat. Saya batuk-batuk luar biasa sampai muntah-muntah, perut saya kembung maksimal, ulu hati saya sakit. Ternyata efek OHSS itu terjadi juga. Karena batuk tidak diperbolehkan karena akan mengganggu penempelan embrio ke rahim, saya dirujuk ke internist. Tapi internist tidak berani memberikan obat apa-apa. Setelah 3 hari perut saya semakin membesar, saya semakin susah bernapas saya pun harus diopname di rumah sakit. Selama di rumah sakit, perut saya membesar dari 67 cm menjadi 94 cm (seperti hamil 6 bulan). Meskipun memakai bantuan selang oksigen, tapi saya tetap susah bernapas. Saya juga jadi susah bicara. Walaupun hasil tes hamil belum ketahuan, saya tetap harus menjalani fungsi paru-paru dahulu (pengeluaran cairan dari paru-paru) dan itu harus dilakukan tanpa bius lokal, supaya calon bayi yang belum ketahuan menempelnya tidak terkena efek biusnya. Sakit suntiknya luar biasa sehingga saya memutuskan supaya yang satunya dilakukan setelah hasil tes. Puji Tuhan, pagi itu tespak saya positif dengan nilai HcG 200an. Saya heran juga, karena saya batuk2 demikian parah, flek- flek dan muntah-muntah setiap hari tapi calon anak saya tetap mau menempel. Suster bilang moga-moga ya Bu, karena hasil garisnya bukan garis jelas agak samar, tapi bagaimanapun juga saya tetap senang. Sayapun menjalani fungsi paru yang satunya lagi. Total air yang dikeluarkan dari paru-paru saya sekitar 1,5 liter an. Setelah 8 hari dirawat di rumah sakit, saya diperbolehkan keluar rumah sakit. 10 hari kemudian, ternyata ada 2 janin yang berkembang. Kami ber2 sangat kaget dan bersyukur. Sungguh baik Tuhan bagi kami.

Menjalani kehamilan kembar buat kami bukan hal yang mudah, sepanjang kehamilan saya batuk.Jeruk nipis dan madu bahkan obat batuk menjadi konsumsi saya sehari-hari. Banyak sekali pantangan makanan yang saya jalani supaya tidak batuk. Menjadi pelajaran juga supaya yang punya alergi batuk supaya menjalani pengobatan terlebih dahulu sebelum program hamil. Beberapa kali saya harus masuk rumah sakit karena flek atau yang saya kira flek, juga kontraksi dini. Puncaknya ketika di minggu ke 17 saya pendarahan di tengah malam. Mimpi buruk kehamilan saya yang pertama rasanya terulang lagi, hari itu saya cuma duduk makan siang merayakan ulang tahun sahabat kami, dan pulangnya memang agak mulas, tapi saya tetap paksakan naik tangga untuk masuk ke kamar.Suami saya masih main bola dan pulangnya saya dimarahi karena terlalu kuatir kenapa masih mulas juga. Ternyata ada darah menempel di ranjang dan di tangan saya. Sambil menangis dan juga berdoa, saya imani, saya terus mengulang doa dengan suara keras di mobil agar ke 2 bayi kami selamat. Puji Tuhan, bayi saya detak jantung masih ada. Sudah terjadi pembukaan, dan dokter bilang saya harus bedrest total di rumah sakit. Semua obat anti kontraksi, anti pendarahan dimasukkan. Setelah 3 hari darah baru berhenti.Puji Tuhan mulut rahim kembali menutup dan disitu saya rasakan gerakan bayi saya pertama kali. Sungguh dalam setiap langkah, harus ada doa dan nyanyian syukur kita, untuk menguatkan diri kita sendiri dan bayi kita, itu yang saya pelajari. Ternyata kehamilan saya itu plasenta previa(ari-ari di bawah) sehingga rawan pendarahan. Dari kehamilan 17 minggu hingga 7 bulan saya bedrest total di tempat tidur. Pispot saya sediakan di sebelah ranjang. Untuk yang lainnya saya andalkan orang lain yang begitu baik. Selebihnya saya masih berani berjalan hanya di dalam rumah saja. Saat ini 2 anak yang cantik sudah lahir dalam kehidupan kami. Terimakasih untuk Dr. Irsal dan Dr. Andrie dan semua suster yang menangani kelahiran bayi-bayi kami.

Teman-teman, jika ada pertanyaan dan dukungan doa jangan sungkan untuk hubungi saya di dearlucia84@gmail.com. Mengenai telur-telur saya yang banyak dan kondisinya baik saya ingin share apa yang saya konsumsi selain putih telur ayam kampung. Saya membaca artikel yang bagus di internet juga banyak membaca di bayi-tabung.com. Saya mengikuti diet mediterania dimana saya mengonsumsi minyak zaitun/minyak bunga matahari, dan salmon. Selain itu makanan saya adalah: jus 3 diva(wortel, tomat,apel-tiap pagi), kiwi, ikan kukus, brokoli kukus, sayur, seafood selain kerang, ayam tim/ kukus, madu. Yang saya kurangi: pedas, msg, air es, mentega, daging merah, makanan kaleng, tahu, tempe, tauco, bebek, ayam broiler, bihun/mie putih, bakmi, kopi, keju, coklat, soda,pepaya, nangka, cempedak, mangga, nenas, durian, suplemen, jamu-jamu. Setelah ET yang saya hindari : vetsin, fastfood, daging kambing, jamu, nangka, cempedak, durian, kerang, makanan mentah, makanan gosong. Saya juga sempatkan jogging setiap pagi dan tidur lebih cepat daripada biasanya.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.33 out of 5)
Loading...Loading...

posted in Berhasil hamil, Jakarta, Masalah kehamilan, OHSS, PCO, Proses | 19 Comments


6th January 2015

Pengapuran pada testis sebabkan azoospermia? – Elisa

Dear all,

Saya ingin bertanya apakah ada yang punya pengalaman pengapuran pada testis?
Suami saya pada tanggal 2 Januari 2015 melakukan SA (sperm analysis) dengan hasil azoospermia (sperma nol). Dokter segera menyarankan untuk tes hormon dan USG testis. Hasil tes hormon normal. Namun hasil USG menunjukkan adanya sedikit varises pada testis kiri dan pengapuran pada kedua testis.

Saya mencoba mencari info mengenai pengapuran testis di internet (sebelum saya konsultasi ke dokter) namun info yang saya dapat sangat minim.
Mohon bantuannya jika ada yang bisa sharing pengalaman serupa.

Terima kasih :)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...Loading...

posted in Sperma bermasalah | 3 Comments


  • Recent Comments

  • ika: Mba Yoanita Selamat atas kehamilannya, semoga menular ke kita2 yg...
  • Desmery: Wahhh kt ga jd ketemuan ya.. Programnya jd ikut jadwal dr ng yg...
  • ade: Hai mba aura.. Smg hasilnya positif ya..pengalaman bayi tabung saya...
  • icka: mba Eka Mba.. coba konsultasi dulu ke dokter, baca pengalaman ibu2...
  • Radifa: @mba Eka. Iyaaa sm mba, saluran tuba sy udh dipotong dua2nya jd...
  • Radifa: Semoga berhasil mba dini… Oh iya mba bayi tabung dengab...
  • aura: Sorii mb..br ngeh baca umurny mb #ga konsen baca nya..hehe#
  • aura: Goodluck ya mb dini..mdh2an hslnya positif hamil..aamiin ya rabb....
  • Search

  • Polls

    • Menurut Anda, keberhasilan bayi tabung terutama disebabkan oleh: (pilih max dua)

      View Results

      Loading ... Loading ...