Melihat air seni mengalir kerjaan suamiku
Bingungkan? Tapi itulah yang terjadi saat saya rawat inap di rumah sakit akibat efek stimulasi ovum yang berlebihan. Efek sampingnya susah buang air kecil dengan volume sangat sedikit, hanya sekitar 100ml sehari. Berasa haus terus… ingin minum, jadi ya badan saya penuh dengan cairan … terkonsentrasi di perut.
Saya akhirnya dipasangi kateter supaya dapat dimonitor air seni saya. Kantong kateternya pun bukan yang biasa tapi semacam kotak plastik bening lengkap dengan ukuran ml yang detail. Selangnya juga 2 kali ukuran selang normal yang biasa digunakan untuk pasien ICU.
Setiap hari cairan yang saya minum dicatat jumlahnya, dan cairan yang keluar lewat air seni juga dicatat. Seperti matematika, kalau yang masuk lebih banyak artinya tubuh saya belum bisa mengatasi kelebihan cairan alias belum sembuh. Kalau cairan yang keluar lebih banyak… ini yang diharapkan… artinya tubuhku mulai sembuh.
Selama 4 hari pertama belum ada peningkatan jumlah air seni saya. Suami yang menjaga saya tiap hari memperhatikan air seni yang mengalir tetes demi tetes. Dia sering memberikan semangat kepada si air seni supaya mengalir lebih cepat… “ayo mengalir dong!”.
Memasuki hari ke 5, keadaan saya berangsur-angsur membaik, terlihat dari jumlah air seni mulai meningkat. Suamikulah yang pertama kali memberitahu, dengan semangatnya dia setiap menit memperhatikan aliran air seniku… tidak sesemangat di hari-hari sebelumnya. Duduknya tidak pernah jauh dari kantong kateter. Rasanya seru juga melihat dia punya kerjaan … melihat air seni mengalir!

(2 votes, average: 4.00 out of 5)
(4.75 out of 5)
posted on January 4th, 2008 at 1:40 pm
posted on April 1st, 2008 at 3:24 pm