Inseminasi vs Bayi Tabung – Michelle

Saya ingin membagi pengalaman saja tentang perbandingan antara inseminasi dan bayi tabung.

Saya sudah menikah selama hampir 8 tahun, dan selama itu hanya berhasil hamil 2 kail, tetapi yang pertama hanya bertahan 2 minggu sebelum copot, sedangkan yang kedua ternyata blank ovum (embrio tidak berkembang) sehingga harus di buang. Usia saya sekarang 35 tahun dan suami 39 tahun, saat menikah kami berusia 28 dan 31 tahun.

Saya mencoba program kesuburan setelah tiga tahun menikah. Yang pertama saya diberikan obat kesuburan racikan sendiri oleh seorang dokter kandungan yang berpraktek di Jembatan Tiga. Menurut dia, saluran telur saya tersumbat kedua-duanya, sehingga harus di semprot. Saya menjalani foto dan kemudian operasi pembukaan saluran di RS Pluit. Tetapi hasilnya kurang memuaskan. Sudah mahalnya minta ampun, berat badan saya naik sampai 20 kilo, waktu hamil ternyata blank ovum. Saya berobat disana sampai hampir satu tahun, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk berhenti berobat disana. Selain daripada antriannya seperti antri beras (daftar dapat jam 5 sore, baru masuk jam 9.30 malam), obatnya tidak jelas (racikan sendiri di apotik sebelah tempat praktek), efek sampingnya parah (kulit muka rusak, berat badan naik 20 kilo) dan hasilnya tidak ada.

Dari situ saya mencoba berbagai dokter kandungan yang disarankan oleh teman-teman, sampai ke Bandung segala. Akhirnya saya memutuskan untuk berobat ke Dr. Enud di Klinik Yasmin, RSCM. Disitu, baru diketahui bahwa rahim saya bentuknya terbalik, kemudian ada infeksi yang menyebabkan rahim tersebut miring, dan saya memiliki kadar Toxoplasma yang cukup tinggi. Selama hampir satu tahun saya menjalani pengobatan untuk masalah infeksi saya dan toksoplasma. Baru setelah itu, beliau menyarankan dua jalan bagi saya, yakni inseminasi (stimulasi telur, sperma disemprotkan ke rahim) atau IVF (bayi tabung). Karena masalah biaya, kami memilih inseminasi. Ternyata ini adalah pilihan yang salah, karena ternyata sperma suami saya termasuk yang “malas”, sehingga inseminasi sebanyak 4 x selalu gagal.

Akhirnya saya menyerah dan menerima nasib saya, dan memutuskan untuk berhenti berusaha sementara. Kebetulan kemudian Tuhan memberikan kami anugrah seorang anak perempuan melalui orang lain, sehingga saya disibukkan dengan mengasuh seorang bayi mungil yang lucu.

Setelah anak kami berusia 1.5 tahun dan saya masih juga belum hamil, akhirnya kami memutuskan untuk kembali mencoba. Karena uang sudah cukup, kami memutuskan untuk mencoba bayi tabung. Setelah survey melalui internet dan kunjungan langsung, kami memutuskan untuk mencobanya di Bunda International Clinic, dengan pertimbangan lokasi yang strategis dan jam praktek yang sangat nyaman (ada pilihan praktek pagi dan sore), tingkat keberhasilan yang cukup tinggi (40%) dan banyaknya rekomendasi yang saya dapatkan untuk tempat ini dibandingkan dengan tempat lain.

Saya dan suami membuat janji bertemu dengan dr. Christine untuk konsultasi awal. Setelah itu, saya dianjurkan untuk membuat janji ketemu dokter pada hari kedua menstruasi. Saya sudah dag-dig-dug karena dari pengalaman saya, membuat janji dengan dokter kandungan itu susahnya sama seperti membuat janji wawancara dengan selebritis. Saya harus menunggu 3 minggu untuk dapat konsultasi dengan dr. Enud…ini bagaimana caranya saya bisa pasti dapat janji ketemu dokter? Ternyata, waktu saya telepon ke BIC, saya cuma ditanya mau yang praktek pagi, siang atau sore. Karena saya pilihnya sore, saya dapat dr. Taufik. Beliau sangat menyenangkan dan ramah, serta sabar mendengarkan cerita dan keluhan saya tentang program kesuburan. Setelah mendengarkan cerita saya, dr. Taufik meminta saya melakukan test darah yang sangat lengkap (HIV, TORCH, Diabetes dan hormon), sedangkan suami hanya disuruh test HIV dan diabetes saja, dan kembali saat saya sudah siap. Mengingat waktu kerja saya yang tidak teratur, saya memilih bulan Desember untuk memulai program, karena dekat dengan masa liburan, sehingga job saya sedikit berkurang.

Tanggal 9 Desember saya mulai program short protocol, dengan suntikan Gonal F sebanyak 2.125 cc…setelah disuntik dua kali, saya kontrol dan perkembangan telur saya tidak terlalu bagus, sehingga dinaikkan menjadi 2.500 cc…tiga hari setelah itu, saya kontrol lagi, dan ternyata telur saya berkembang sangat bagus dan memuaskan, sehingga dosis dipertahankan.

Tanggal 20 Desember, dilakukan Ovarium Pick Up, dengan bius total. Dari 12 telur yang berkembang, 10 diambil, dan dua ditinggalkan karena terlalu kecil. Sementara itu, suami diminta spermanya. Telur-telur yang diambil berkisar antara diameter 15 – 22 mm. Tanggal 24 Desember, embrio transfer dilakukan. Dari 10 telur, hanya sembilan yang ada isinya, dari 9, hanya lima yang berkembang, tetapi tidak terlalu baik (3 moderate dan 2 poor). Akhirnya, 3 telur ukuran moderate yang dipilih untuk ditransfer karena pecahannya tidak terlalu banyak (embrio yang bisa ditransfer hanya yang sudah membelah sebanyak minimum 5 bagian dan serpihannya sedikit). Dua embrio sisanya tidak dibekukan karena kualitasnya tidak bagus, sehingga tidak akan berhasil juga bila ditanam lagi.

Setelah itu, saya menunggu sampai tanggal 6 Januari sebelum di test darah dan urine. Selama menunggu itu, dr. Taufik menyarankan agar saya banyak istirahat dan berbaring, tidak naik-turun tangga terlalu sering, mengangkat berat dan yang terpenting, tidak terlalu cemas. Saya diberi tiga macam obat, satu obat hormon minum, satu obat hormon vaginal, dan satu obat untuk mengatasi kembung-kembung dan sakit perut.

Akhirnya, puji Tuhan, kemarin pada tanggal 6 Januari, saya mendapatkan hasil test positif, baik urine maupun HCG…bahkan HCG saya 260, diatas rata-rata, sehingga diperkirakan kehamilan ganda. Tanggal 7 Januari saya langsung di suntik penguat. Tanggal 14 nanti saya akan kembali di suntik penguat dan tanggal 20 Januari nanti saya akan di periksa dengan USG.

Kesimpulannya, kalau anda sudah diatas 33 tahun, punya masalah dengan saluran tuba, pernah kena infeksi rahim, dan suami punya masalah jumlah sperma dan/atau sperma malas, jangan buang-buang uang dan waktu mencoba inseminasi. Kami hitung-hitung, biaya 4x inseminasi (beserta capek, pegel dan waktu yang dibuang) itu sama dengan 1x biaya bayi tabung. Toh obat-obat penyubur yang dipakai juga sama, cuma beda ada tambahan biaya untuk OPU, embrio transfer dan pembuahan telur nya saja.

Selain itu, program BT di Indonesia juga sudah cukup bagus dibandingkan dengan di Singapore, Penang atau Kuala Lumpur kok. Yang penting, semua informasi yang diberikan oleh penyelenggara cukup jelas dibagian awalnya (termasuk informasi soal biaya-biaya yang diperlukan, cara pembayaran dan masalah pendaftaran). Yang penting, cari dokter dan penyelenggara yang memberikan kenyamanan pelayanan yang paling memuaskan. Paling mahal bukan berarti paling bagus, murah juga tidak berarti jelek.

Semoga ini bisa bermanfaat bagi teman-teman sekalian. Mohon doanya untuk pemeriksaan USG saya besok tanggal 20 Januari.

FacebookTwitterGoogle+Share
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (22 votes, average: 3.14 out of 5)
Loading...Loading...

54 thoughts on “Inseminasi vs Bayi Tabung – Michelle

  1. Dillah

    dear mba siti dewi..

    sekedar info, bln maret kmrn sy jg barusan inseminasi dg dr.karel di abdi waluyo tp sayang belum rejeki saya buat hamil. waktu pertama kali ke dokter saya dan suami dikasih obat2an buat 1bln penuh, stlh haid datang ke dokter lg barulah masuk ke program insem. total biaya yg sy keluarin dr awal lbh dr 9jt. namun pastilah tiap orang berbeda tergantung masalahnya, jd mendingan cb konsul dl aja ke dokter biar lbh jelas ttg gimn penanganan yg dibutuhkan..

    semoga bermanfaat ya sis, semangat.. :)

  2. Ningsih

    Siang Temen2

    Maaf sebelumnya saya anggota baru disini, tapi sy sering baca cerita temen disini.

    saya mau minta saran dari temen, saya sedang berencana untuk program bayi tabung. tolong kasi masukannya sebaiknya saya jalanin bayi tabungnya dimana ya. Jakarta, Surabaya, Yogya atau di malaysia.

    mohon referensi dari temen2

    Trimakasih sebelumnya

  3. dyta

    hai ningsih…

    saranku kalo mau program bayi tabung ditempat yang kamu nyaman aja.. karena prosesnya lama dan bener2 makan tenaga n pikiran.. jadi yg deket sama tempat tinggalmu.. tentunya dengan pertimbangan dokter yang bagus.. klo aku di RS bunda dengan dokter irham,, alhamdulillah babyku skrg udh 1,5 tahun umurnya…tumbuh sehat dan pintar..

    semangat yaaa… jangan stress n banyak2 berdoa.. keputusan terbesar balik lagi kepada tuhan YME.

    cheers

  4. Sisca

    dear ningsih……aq sisca di jogja…..
    menrtku sih saran mba dyta bener tuh, namun krn ningsih msh awam ttg BT sebaiknya pelajari seluk beluk BT di blog ini….kmd diskusikan sm suami sebaiknya ambil program BT di klinik mana dg dokter siapa….
    so,namun jk mau jalan pintas utk mendpt info aq siap memberikan rekomendasi scr obyektif kok, namun lwt email sj ya….
    kirim email ke roby8889@gmail.com
    tetap semangat ya…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*