Category Archives: Tuba fallopi bermasalah

Permasalahan di salura/tuba fallopi

Setiap program slalu merasa ada harapan baru – Eta

Hai semua salam kenal, saya Eta 29 thn sudah menikah 7 thn jalan 8 thn sudah sering sekali baca group ini namun belum berani cerita karena sampai saat ini saya msh belum berhasil, permasalahan tuba kanan non paten pd thn 2013 sudah pernah di laparoskopi tp thn ini di cek tuba kanan tetap non paten , dan sperma suami yang kurang bagus.

Terakhir kemarin program di RSIA Grand Family Pluit, ET di tgl 27 Juli 2016, seharusnya hari ini tes pack karena di RSIA grand family hanya dianjurkan test pack dan tidak perlu cek darah, karena hari ini kami belum beli test pack maka saya udh test pack di jam 9 pas udh di kantor hasilnya negatif ;( sedih tp mau coba tes pack bsk pagi krn di bungkus test packnya sebaiknya menggunakan urine pagi.

Sudah pernah beberapa kali program, yang pertama kali adalah thn 2013 inseminasi di BIC namun gagal, 2014 lanjut BT dengan dr taufik gagal, lalu ada sisa embrio FET dan gagal lagi sempat BHcg mencapai 23.3 namun sorenya flek dan akhirnya menstruasi, BT berikutnya adalah thn 2015 di daya Medika gagal lagi sempat trauma karene sempet kene OHSS sedih bgt perut kembung sakit dan ngga bisa tidur berakhir dgn kegagalan , pertengahan 2015 ke RSIA grand family karena ada program yang telurnya dimatangkan di luar protokolnya lebih pendek namun ternyata gagal juga dengan program tsb, dan ini adalah program yang kesekian kalinya.

Setiap program slalu merasa ada harapan baru dr Tuhan walopun sudah sering kali gagal, senang sekali mendengar banyak yang berhasil juga di group ini, tetep semangat ya smua buat para ibu2 pejuang, smoga kita smua diberi kesabaran, Tuhan memberikan indah pada waktuNYA, God Bless

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading...

Dia mengganti masa duka saya dengan kebahagiaan – Rara

Hai moms dan teman2 seperjuangan,
Sudah lama saya menjadi silent reader situs ini. Dan akhirnya kali ini saya ingin membagikan cerita saya berjuang dengan bayi tabung, semoga menginspirasi dan memberikan semangat kepada ibu ibu pejuang bayi tabung dimanapun berada.

Nama saya Rara. Usia saya 33 thn. Sudah menikah dr sejak 26 thn. Jadi saya kosong selama 5 thn. Permasalahan terdapat pada saluran tuba falopi saya yg non patent di sebelah kanan. Sementara di saluran tuba sebelah kiri jg salurannya kurang lancar. Saya dan suami berkomitmen setelah di thn ke 3 kami on off berkonsultasi dg obgyn, di thn ke 5 kami harus seriusi. Langkah pertama adalah saya resign dr pekerjaan. Saya dulu adalah pasien dr. Ivan Sini di Morula IVF dan hampir memulai proses inseminasi sampai akhirnya saya diajak oleh teman untuk ikut seminar bayi tabung yg diadakan oleh klinik Daya Medika bersama dr. Budi Wiweko. Setelah mengikuti seminar dan tergiur dengan harga yg cukup melegakan dibanding di RS sebelumnya, saya dan suami memutuskan untuk langsung program di Daya Medika.

Setelah berkonsultasi dg beberapa obgyn yg bertugas disana (beda hari beda obgyn), kami melakukan inseminasi. Namun gagal.
Setelah berkonsultasi lg, kami memutuskan untuk langsung bayi tabung saja instead of mencoba coba inseminasi ulang.

Kami memulai pd bulan Juni 2015. Tgl 10 Juni pd waktu haid hari ke dua.
Setelah melewati proses 8 kali visit dokter dan review perkembangan telur2 saya, tentu saja jg setelah melewati drama perkembangan telur yg kadang bagus kadang tidak, rangkaian suntikan2 dan obat2 hormon yg harus dikonsumsi, saya sudah bisa melakukan OPU (ovum pick up) pd tanggal 26 Juni 2015.
OPU dilakukan oleh dr. Budi Wiweko. Masuk ruang tindakan jam 6 pagi pas. Jam 7 saya sadar dr bius total dan diberi tau ada 20 telur yg diambil. 10 dr kanan dan 10 dr kiri. Fiuhh lega.

3 hari setelahnya saya harus melakukan ET (embrio transfer). Tepatnya pada tgl 29 Juni 2015.
Sedihnya, mendapati kenyataan dr 20 telur hanya disaring 13 yg bagus. Dan setelah dibuahi sperma, hanya tinggal tersisa 3! Iya 3!!
3 pun tidak ada yg blastocyst. 2 kualitasnya good dan 1 medio. Jd saya tidak mempunyai cadangan untuk dibekukan. Rasanya hancur saat itu. Jika gagal maka kami harus memulai proses ini dr awal lg.
But the show must go on. Saya coba untuk menata hati. Breath in breath out. Relax. Dan sayapun memasuki ruangan utk ET. Kali ini tindakan dilakukan oleh dr. Shanty Olivia.
Disitu saya melihat sendiri melalui layar tv, 3 embrio dimasukkan ke rahim saya. Mereka menyerupai titik2 kecil putih berpendar pendar seperti cahaya.
Sayapun menyapa mereka lirih “Pegangan yang kuat didalam ya nak…” sambil meneteskan air mata. Sungguh sangat emosional sekali momen itu. Saya dipasangkan kateter dan ditinggal selama kurang lebih 1 jam diruangan itu dengan posisi kaki yg blm berubah dr sejak ET td. Terlentang keatas dg posisi hip yg lbh tinggi dr kepala saya.
Setelah 1 jam saya kembali keruang istirahat dan sudah gak tahan minta dicopot kateter. Bahkan setelah dicopot saya langsung jalan ke kamar mandi utk pipis walopun gak keluar jg. Tapi memang rasanya gak nyaman sekali pasca dilepas kateter.

Here we go, 2 WW.
Saya mostly baring dikasur dan hanya bangun untuk ke kamar mandi.
Untuk suntikan pregnyl tiap 2 hari sekali kami panggil bidan deket rumah utk bantu suntikin dirumah. Krn ini suntik dipantat tidak bisa dilakukan sendiri oleh suami seperti ketika suntik gonal,cetrotaid ataupun pergoveris diperut.
Ternyata selama 2WW saya terkena OHSS dg keluhan perut membesar, sesak napas dan nyeri di ulu hati. Jalan harus membungkuk dan tidur harus posisi setengah duduk.
Di hari ke 10 setelah ET saya beranikan utk pergi menemui dr. Budi Wiweko tapi di klinik Yasmin RSCM yg lbh dkt dengan rumah saya. Beliau praktek disini tiap hari. Menurut beliau OHSS saya masih ringan. Namun suntikan pregnyl distop.
Oya di hari ke 8,9 dan 10 tiap tengah malam saya terbangun krn perut sakit sekali seperti haid tapi menurut saya ini 2x lipat lbh sakit. Durasi sekitar 10 menit. Di hari ke 9 dan 10 pagi ada lendir di celana saya berwarna coklat keruh dan baunya seperti darah.

Hari ke 14 terima raport dan puji Tuhan bhcg saya cukup tinggi 308,71. Saya dan suami tak kuasa menahan airmata bahagia waktu itu. Luar biasa rasanya. Bahkan suster2 di Daya Medika menduga ini pasti kembar. Kami kembali menemui dokter dikehamilan minggu 6 pagi hari dan dikonfirmasi bahwa sudah terlihat di usg saya positif hamil namun cuma 1. It’s okaaay. Praise The Lord for that. 1 pun sudah sangat bahagia.

Tapi ternyata kebahagiaan kami msh teruji dengan adanya pendarahan disiang harinya setelah pulang dr klinik tadi pagi. Pukul 2 siang waktu itu dg panik luar biasa saya telp suami utk pulang. Sambil berpikir kerumah sakit mana sebaiknya kami pergi. Mengingat pendarahan yg terus keluar. Mau ke daya medika kok jauh sekali dr rumah saya, kelapa gading ke kedoya. Mau ke RSCM jg msh cukup jauh pikir kami. Akhirnya saya coba telp klinik teratai di RS Gading Pluit dan ternyata yg sedang praktek saat ini dr. Indra Anwar dan sudah pasien terakhir. Tapi sungguh baik beliau mau menunggu sampai saya datang. 10 menit kami tiba dan langsung diperiksa. Di usg transv dan detak jantung bayi kami masih ada. Fiuuuhhhhhhhhh… Puji Tuhaan.. Lega sekali rasanya sampai saya menangis.
Beliau menyarankan untuk opname dan bedrest total. Total dlm artian BAK dan BAB dilakukan diatas kasur. Seminggu saya dirawat sampai akhirnya boleh pulang.

Bedrest berlanjut dirumah. Saya masih tetap BAK dan BAB diatas kasur.
Sampai akhirnya pada kehamilan minggu 10 terulang lg terjadi pendarahan. Dan kali ini jauh lebih banyak. Jam 2 siang sampai 7 malam saya sudah mengganti pembalut 2x dan sangat penuh. Dunia rasanya runtuh. Hati saya hancur berkeping2. Saya hanya bisa menangis dan menangis. Saya kembali opname dan pulang lagi msh melanjutkan bedrest total sampai total 6,5 bulan kehamilan saya, saking takutnya terjadi pendarahan kembali.
Total lamanya bleeding ini adalah sampai kehamilan minggu 16 atau 4 bulan. Jadi saya hamil tapi seperti tdk hamil krn seperti sedang menstruasi, pakai pembalut sampai kehamilan 4 bulan. Sungguh masa masa kelam bagi saya. Tiada hari tanpa air mata. Setiap hari hanya berharap segera esok pagi dan pendarahan berhenti ketika bangun.

Tapi Tuhan menggantikan masa masa sulit itu dengan kebahagiaan diakhir mada kehamilan saya. Pada trimester ke3 kehamilan saya sungguh tdk merasakan pegal2 yg berarti. Rasanya nyaman sekali. Saya bahagia bisa kembali berjalan, keluar rumah bahkan pergi ke mall! Hahaha
Pertama kali keluar rumah, kami merayakan anniversary ke 6thn pernikahan kami dg menginap di hotel. Sungguh perayaan yg tak terlupakan bagi kami.

Anyway, beruntung kami bertemu dgn dr. Indra Anwar. Kami akhirnya melanjutkan proses kontrol dan konsultasi sampai melahirkan dengan beliau. Beliau sungguh sabar. Menjelaskan dg detail dan sejelas2nya setiap pertanyaan kami. Tidak pernah terburu2. Dan sangat realistis. Bahkan beliau mengatakan saya bisa melahirkan secara normal. Walaupun diawal proses bayi tabung di daya medika dl saya sudah diberitahu untuk caesar, demikian pula ketika bertanya dg suster2 di llinik yasmin RSCM, mereka semua mengatakan hampir 100% kehamilan bayi tabung melahirkan melalui c section.

Dan tibalah saat melahirkan. Tgl 18 Maret 2016, dikehamilan minggu ke 40. Jam 3 dini hari saya mulai merasakan kontraksi yg berulang secara teratur. Jam 6 pagi saya cek ada flek merah dicelana saya. Jam stgh 7 kami berangkat ke rumah sakit ( RS Gading Pluit), dan jam 8.20 putri kami tercinta lahir kedunia dengan sehat secara persalinan normal. Sungguh sangat sangat cepat prosesnya. Tuhan baik. Dia mengganti masa masa duka saya dengan kebahagiaan yg luar biasa.
Kini anak kami sudah 3 bulan dan sehat.

Sungguh saya ingin menginspirasi teman2 seperjuangan semua untuk terus berusaha, tetap yakin, semangat dan berdoa.
Semoga sharing saya ini bermanfaat.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading...

Laparoscopy untuk persiapan bayi tabung – Vivi

Salam hangat, dengan website ini kita bisa berbagi pengalaman. Kali ini saya mau berbagi pengalaman laparoscopy. Saya sudah pernah mengikuti program bayi tabung pada Nov 2015 di BIC dengan dokter senior disana tetapi gagal dan tidak ada embrio yang bisa disimpan….hikkkss. Dokter menduga sel telur kecil, kualitasnya tidak bagus dan sperma pun juga astheno zoospermia. Oleh karena itu kami disarankan laparoscopy (Lo.) untuk mengetahui hambatan, Lo dilakukan pada tanggal 2 Feb 2016 dengan biaya yang cukup besar sekitar 31jt. Hasil dari Lo yaitu tuba kanan paten (di test dengan memasukkan cairan tapi cairan tsb tidak keluar) sedangkan yang kiri bagus, endometriosis ringan (endometriosis dibakar), indung telur dilubangi supaya dapat memperbaiki kualitas sel terus serta mengurangi hormone yang tinggi (saya lupa nama hormonnya, sepertinya progesterone). Pasca Lo perutnya sedikit sakit dan tidak nyaman karena ada bekas jahitan benang di tiga titik dan dikasih obat asam folat, anti oxydan, fertilovit plus 35 untuk diminum. Saya dan suami berusaha untuk hamil secara alami karena banyak pengalaman yang saya baca bisa berhasil hamil.

Tanggal 19 Feb saya haid dan masih terasa kram sakit, biasanya setiap haid juga saya mengalami kram sakit dan maaf darah yang keluar benar2 fresh merah dan banyak. Hari ke-12 periksa ke dokter dengan transvaginal, telur masih kecil dan yg paling besar berukuran 10mm dan tidak tumbuh. Normalnya pada masa subur itu sekitar 17-18mm. Olahraga tetap saya lakukan seminggu 3x, makan telur kampong, buah dan susu putih. Hehehe Apa ada resep dan tips dari teman2 untuk memperbaiki telur dan kualitasnya? Rasanya sedih dan kecewa, pada masa ini kami masih berharap untuk bisa hamil dan berserah kepada Tuhan. Apakah teman2 ada yang punya pengalaman seperti saya?

Wahh membayangkan tangan kaki bayi yang mungil, baju2 yang kecil lucu dan wangi bayi rasanya senang sekali, kebahagian seorang ibu yang tak ternilai.

Dengan pertimbangan usia kami yang cukup jauh dan sudah berumur (hmm sekitar 20th) mungkin kami akan mengikuti program bayi tabung lagi bulan depan. Tetapi sekarang ada keraguan dan pertimbangan, dokter yang menangani kami di BIC rasanya tidak benar2 fokus mungkin karena banyak pasien. Oh yaa program bayi tabung yang gagal pada waktu itu pasca ET tidak dikasih suntik penguat (kalau crinone tetap dipakai), apa ini salah satu penyebab gagal? Apakah teman2 ada pengalaman pasca ET dikasih suntik penguat embrio?

Sekarang saya jadi berpikiran, kalau keadaan telur saya seperti ini dan hanya dikasih obat asam folat dan fertilovit apakah benar2 bisa memperbaiki sel telur jika kami mengikuti program bayi tabung lagi. Hikkss worry and I’m not ready for failed again. Apakah kami harus cari klinik bayi tabung di tempat lain? Teman2 ada yang punya pengalaman bayi tabung di RS. Family Pluit? Kami sadar bahwa segalanya Tuhan yang berikan, kami tetap berusaha dan berdoa untuk mendapatkan seorang bayi.

Terima kasih.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 2.00 out of 5)
Loading...

Positif hamil dan masih terus berjuang – Nadia

Halo semua,
ikutan share cerita ya. Setelah 2x keguguran, aku dan suami memutuskan untuk ikut program hamil di BIC, setelah cek HSG, Tuba aku non paten kiri dan kanan dan akhirnya mutusin utk bayi tabung, di BIC kami di handle sama Dr. Caroline. Setelah suntik gonal 11 hari, akhirnya kita opu, dapet hanya 5 telur dan hanya 1 yang berhasil jadi good quality embrio, 1 moderate, 1 very poor. Kita ET hari ke 3, ditransfer 2 embrio. Dan gak punya cadangan untuk difreeze. Berharap banget yang 2 ini ada yang berhasil.

Setelah 2 minggu, cek hcg pertama Alhamdulillaah positif dgn nilai hcg 152, dokter nganjurin tes ACA, ternyata ddimernya 1900-an, alhasil harus suntik lovenox setiap hari. Hcg ke-2 hasilnya bagus: 1968, tapi hasil usg minggu ke 5 kehamilan masih baru kelihatan kantungnya aja. Kita disuruh cekup seminggu sekali untuk memantau perkembangan kehamilan ini.
Minggu ke 6 dicek, masih belum kelihatan janinnya. Kantung kehamilan sudah berkembang, dokter masih nyuruh kita bersabar, dan nunggu sampai minggu ke tujuh.

Hari ini (minggu ke 7) saya baru cek lagi…. Dengan sedihnya… Janin belum terlihat juga, kantung kehamilan sudah besar tapi janin masih gak kelihatan. Dokter dengan sangat hati2 ngasih tau kemungkinan terburuk, yaitu BO. Lemes rasanya…. Pasti disini pada ngerasain ya perjuangan bay tabung itu gak gampang scr fisik dan emosi. Dokter nyuruh dateng lagi minggu depan untuk penentuan, ngeliat klo beneran gak ada perkembangan, harus dikeluarin. Deep down aku masih berharap, janinku tumbuh… Dan menyapa kita minggu depan. Mohon doanya yaaa 🙂

Untuk yang lain, semangat Berjuang. Ikhtiar harus maksimal walaupun yang nentuin Allah swt. Yakin aja…mapapun yang terjadi pasti yang terbaik buat kita ( semangatin diri sendiri juga. Hehehe

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Yakin dengan proses bayi tabung – Femi

Hai, Salam Kenal.
Saya senang baca sharing teman2 disini yang sangat memotivasi. Terima kasih atas sharing2nya ya.
Sekarang sy 36 thn dan suami 45 thn. Kami pertama kali melakukan bayi tabung tahun 2011 dengan dr. Budi Wiweko di Yasmin Kencana. Sperma suami bagus tidak ada masalah, masalah ada pada sy dimana tuba falopii mampet 2-2nya akibat infeksi TB rahim. Setelah TB diobati selama 1 tahun dan dinyatakan sembuh, masalah lain yg muncul adalah rahim saya terlalu tipis dan tidak merespon obat2 hormonal yg diresepkan untuk menebalkan endometrium. Akhirnya diputuskan untuk dilakukan transplantasi amnion untuk merangsang endometrium menebal. Amnion tersebut diperoleh dari Ibu yg baru melahirkan dan sudah melalu proses screening. Setelah amnion dipasang dan dibantu obat2 hormon, kami dinyatakan siap untuk bayi tabung.

Pada waktu OPU diperoleh 11 sel telur dan yang berhasil menjadi embrio ada 7 tetapi hanya 2 yang ditanam mempertimbangkan rahim sy yang tipis. Alhamdulillah proses bayi tabung fresh cycle berhasil dan saya melahirkan bayi laki2 dengan proses normal via waterbirth. Kami berhasil punya anak setelah 8 tahun menikah. Oya, karena waktu itu di Yasmin tidak disarankan melahirkan normal sementara saya yakin bgt saya bisa melahirkan normal, pada usia kandungan 7 bulan saya pindah ke Bunda dgn dr. Irham. Sebelumnya saya pamit dulu ke dr. Budi kl sy mau melahirkan normal dan pindah dokter.

Setelah anak sy berusia 2 thn, akhir tahun lalu kami memutuskan utk FET walaupun saat itu sy masih blm comfort dgn bgmn hukumnya secara agama mengenai embrio yg di freeze selama 3 thn krn sy pernah baca ada jg negara yg melarang frozen embrio (cmiiw, maaf kl salah ya). FET yg pertama dilakukan dgn mentransfer 2 embrio tp belum berhasil. FET lagi dengan 3 embrio tapi belum berhasil jg. Atas kedua kegagalan itu kami tidak melakukan review dgn dokter tetapi sy yakin hal tsb terjadi krn sy gak comfort dengan FET yg menurut sy kelamaan itu??, semesta merespon.

Saat ini sy sedang proses bayi tabung lg di BIC dengan dr. Irham. Tgl 21 Des sdh OPU dengan hasil dari 11 oocyte, ada 10 yg fertilized tp blm tau kualitasnya. Besok pagi tgl 24 Des insya Allah sy akan proses ET.
Semoga Allah memberi kelancaran bagi saya dan teman2 yang sedang proses bayi tabung, ya.

Total biaya yg sudah kami keluarkan:
Biaya program promo 43,500k
tambah obat 14,000k
lab 6,000k
biaya konsul dokter sekitar 4x: 2,000k

suster bilang yg bisa pake harga sesuai promo biasanya kl dibawah 30 thn, untuk yg diatas 30 thn biasanya ada tambahan obat hormon dikarenakan kualitas sel telur sdh menurun.

Demikian share pengalaman sy menjalani bayi tabung.
Dari pengalaman2 itu sy menjadi tambah yakin bahwa selain hanya kuasa Allah yang menentukan, kita jg harus yakin dengan proses yg kita jalani, sabar-termasuk nungguin dokter berjam2, ikhlas, dan merasa beruntung krn gak semua perempuan dikasih kesempatan utk jalanin proses bayi tabung- it’s kinda distribution of wealth, isnt it??

oya, pas OPU yg pertama sy bahkan cuma ijin sebentar dr ktr dan langsung kerja lg walopun jd oon krn pengaruh obat bius msh ada ?. Dan saat fresh cyle yg pertama sy cuma cuti ktr 2 hari dan beraktivitas seperti biasa lg. Baru setelah dinyatakan hamil, sy lebih berhati2.

Semangat ya teman2..

Sy selalu ingat pesen dokter ahli paru2 sy, dr Handoko Gunawan, waktu sy mengungkapkan kekhawatiran gak bs punya anak krn TB rahim: “gak ada yg gak mungkin buat Tuhan, kamu kayak gak punya agama aja!”

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading...

Bayi tabung dengan dr. Devindran Muniandy – Ellie

Hingga 4 tahun usia pernikahan, saya dan suami masih santai2 saja. Wara wiri sana sini dan bekerja. Walaupun ada saja yang KEPO bertanya “kok belum hamil2 sih? sengaja ya ditunda?” dan pertanyaan sejenis yang menurut saya seharusnya ditujukan ke Tuhan.

Masuk tahun ke 5, kami memutuskan untuk periksa keadaan masing2. Akhirnya pergilah ke klinik kesuburan di jl. Wijaya. Saya menjalani pemeriksaan lengkap termasuk HSG (tindakan paling tidak nyaman dari semua tindakan yg pernah saya jalani)
Hasil yg didapat, tubafalopi kiri sedikit lebih sempit dibanding yang kanan. Suami juga cek sperma. Dari hasil pemeriksaan, kualitasnya kurang bagus dan jumlahnya sedikit+ada varises di saluran reproduksi. Lalu dilakukanlah operasi pengangkatan varises itu.
Setelah itu kami belum sempat lagi berkunjung ke klinik tersebut untuk pemeriksaan lanjutan karena masalah waktu dan mempertimbangkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Kalau boleh jujur, kami kurang nyaman pada antrian yang berjam2, dan ketika bertemu dokter, beliau hanya membacakan hasil pemeriksaan kami dalam waktu tidak sampai 5 menit lalu bertanya: “ada pertanyaan?”
Laaahhhh, ini saja baru dibacakan dan kami sedang mencoba mencerna, langsung di tanya balik begitu ya kami bengong ??

Beberapa bulan kemudian, teman dekat saya memberitahu kalau salah satu teman kami berencana mau program bayi tabung di Penang. Saya langsung tertarik ikut juga. Untungnya suami antusias dan mendukung sekali keinginan saya.

Bulan februari kami konsultasi pertama kali ke Penang. Tepatnya ke dr. DEVINDRAN MUNIANDY di RS Loh Guan Lye Hospital. Baru kali ini kami bertemu dokter dan langsung merasa sreg. Beliau fasih berbahasa melayu (menguntungkan untuk yang kurang menguasai bahasa inggris), memiliki raut wajah yang tenang dan selalu tersenyum. Selama konsultasi, kami tidak ngerasa diburu2. Beliau menerangkan dengan nada yang tenang sehingga kami pun merasa lebih santai. Saya langsung di USG dan kami dirujuk ke lab untuk melakukan pemeriksaan darah dan sperma suami. Sore hari kami balik ke rumah sakit dan langsung dibacakan hasil lab yang Alhamdulillah semua hasilnya bagus (kalau di Indonesia bisa/tidak ya secepat itu?).

Selama jeda waktu itu, saya selalu “keep in touch” by email dengan dr. Devindran. Semua pertanyaan2 saya selalu dijawab langsung oleh beliau. Sebagai pasien, saya merasa diistimewakan. Belum pernah sekalipun bertemu dokter yang mau meluangkan waktu menjawab pertanyaan2 pasien (yang pasti bukan dari saya saja) secara langsung. Yang pernah saya jalani di Jakarta, saya selalu berkomunikasi via asisten dokter.

26 April 2015
Haid hari pertama, saya seorang diri berangkat ke Penang untuk memulai program (program yang dipilih: Short Protokol atau mereka menyebutnya Antagonist Protocol yang dimulai pada haid hari kedua). Suami belum bisa ikut karna tidak bisa ijin kantor terlalu lama dan belum dibutuhkan juga untuk menjalani program. Ketika saya tanya apa yang sebaiknya saya lakukan selama program ini, jawab dr. Devindran: “happy happy and go shopping”
Hihi.. Dokter yang satu ini sangat mengerti wanita pastinya ^o^

Antagonist Protocol (IVF)

27 April 2015
Suntikan pertama dilakukan pada haid hari kedua di daerah perut. Suntikan bertujuan untuk memperbanyak sel telur yang dilakukan setiap pagi sampai hari ke-10. Suster yang mengajari saya menyuntik super duper sabar. Sampai 2 hari berturut2 saya diajari (kebetulan penginapan dengan rumah sakit jaraknya dekat. Jadi setiap jam 9pagi saya ke RS hanya untuk belajar suntik dengan suster Jennifer) baru percaya diri menyuntik sendiri ?

28 April 2015
Saya mulai menyuntik sendiri (jujur, tadinya takut sekali membayangkan akan menyuntik sendiri). Tapi setelah dijalani, ternyata tidak sehoror yang diduga.

2 & 4 Mei 2015
Jadwal USG untuk melihat perkembangan sel telur. Hasil terakhir, terlihat ada 26 sel telur.

6 Mei 2015
Dilakukan Ovum Pick Up (OPU) atau pengambilan sel telur. Saya dibius lokal. Waktu yg sama dilain tempat, suami saya menyerahkan sperma nya ke lab.
Setelah itu, sperma suami di pertemukan dengan sel telur yang diambil tadi ke dalam tabung (IVF) dan ada juga yang di suntikkan ke sel telurnya langsung (ICSI). Lalu jadilah embrio2. Dipilih yang kualitasnya bagus saja.
Dokter menyarankan saya konsumsi putih telur 6-9butir/hari untuk mengurangi pembengkakan pasca OPU.

7&8 Mei 2015
Istirahat

9 Mei 2015
Embrio Transfer (ET). Diruang persiapan akan disuruh minum hingga kantung kemih penuh dan tahan untuk tidak BAK. Setelah tindakan, akan dipindah ke ruang recovery dan masih disuruh tahan untuk tidak BAK selama 1/2 jam ke depan. Setelah itu kita akan disediakan pispot oleh perawat karna saya harus tetap ditempat tidur. Di ruang recovery sekitar 2-3 jam baru boleh pulang.
Dari 26 sel telur yang saya hasilkan, yang berhasil jadi embrio sebanyak 9. Lalu 2 embrio dimasukkan ke rahim saya tanpa anastesi. Prosesnya tidak sakit sama sekali. Hampir sama seperti Pap Smear rasanya.

12 Mei 2015
Saya dan suami kembali ke tanah air

13-20 mei 2015
2 weeks wait (2ww) yang tadinya saya pikir akan terasa lama karna stay di rumah terus, ternyata tidak sama sekali. Entah kenapa seminggu pertama dirumah saya seperti kehilangan kekuatan untuk berktifitas. Sebagian besar waktu saya habiskan dengan tidur. Keadaan seperti ini tergantung kondisi fisik masing2. Jadi tidak semua seperti saya.
Di minggu kedua baru mulai menjelajah dalam rumah.

21 Mei 2015
Hari pembagian raport pun datang. Saya dan suami sudah pasrah. Karna begitu mau memulai program ini pun kami sudah siap untuk kemungkinan terburuk. Dan semua keluarga udah saya ingatkan untuk jangan berharap terlalu banyak (PENTING!)
Masuk ke ruang dr. Devindran setelah pemeriksaan darah di lab, saya berusaha sekali untuk terlihat santai. Padahal jantung serasa mau copot saking deg2annya -__-
Wajah dr. Devindran terlihat sumringah ketika saya masuk ke ruangannya. Lalu menjabat tangan saya sambil berkata:”congratulations! you’re pregnant”
Saya rasanya seperti mau lompat2 saking senangnya ?
Akhirnya saya di USG dan melihat embrio sebesar kacang hijau. Terimakasih ya Allah, terimakasih dr. Devindran, terimakasih keluarga dan tmn2 yang sudah support saya selama proses ini.

Di Jakarta, saya selalu konsultasi dengan dr. Handi Suryana di RS. PIK sesuai rekomendasi dr. Devindran. Sebelumnya saya dan suami berencana mencari dokter kandungan yang di dekat rumah saja. Tapi setelah bertemu dengan dr. Handi, kami langsung merasa sreg seperti yang kami rasakan ke dr. Devindran. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap ke dr. Handi.
Demikian pengalaman IVF kami..

Pesan penting sebelum mulai program bayi tabung:

  • Pasrah!! harus siap gagal. Kalau belum siap, lebih baik jangan bayi tabung dulu. Apalagi kalau masih ada masalah yang memberatkan pikiran.
  • Dan pesan ke keluarga dekat “dont’t expect too much”. Agar kita juga tidak tertekan ketika menjalani program.
  • Biaya memang tidak sedikit. Tapi kalau dibandingkan dengan biaya kami bolak balik ke dokter di Jakarta dan hasilnya tidak jelas, ya lebih murah di Penang. Dan yang penting, lebih memuaskan (buat kami)
  • jalani proses dengan sabar dan lapang dada
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.75 out of 5)
Loading...