Category Archives: Pengalaman di klinik/rumah sakit

Pengalaman-pengalaman menarik sewaktu di klinik atau rumah sakit

Sisa embrioku – Jenny

Hai..saya slh satu pasien dr.ng. ud program bayi tbg thn 2013. Puji Tuhan sekali program lgsg berhsl.sblmnya thn 2012 prnh insem dgn dr.ng jg tp gk berhasl. Lwt bayi tbg aku et 2 dan smpn 3 embrio. Dr 2 yg ditanam dua2 nya bertumbuh dgn sempurna dlm rahimku. pdhl bhcg br 139. Alhasil aku melhrkan 2 bayi cowok yg ganteng thn 2014 scr Caesar wlpun mrk lahir di usia 8bln. berkat pertlgan Tuhan, anak2ku berhsl mlwti smua rintangan. skrg ud usia 1,5th. bertepatan pula contract penyimpanan embrioku ud berakhir. Aku terpksa membuang 3 embrioku. Sbnrnya syg skli. byk yg berjuang mau dpt 1 embrio aja gk berhsl tp aku mlh membuangnya. hahhhh..maafin mama ya syg..buat tmn2 yg berjuang, tetap berdoa dan berhrp pdNya. Pengharapan di dlmNya tdklah sia2..aku mjd seorg mama di saat pernikahanku memasuki usia 9 thn. Smoga bs mjd inspirasi bt yg msh berjuang ya..

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bayi tabung dengan dr. Devindran Muniandy – Ellie

Hingga 4 tahun usia pernikahan, saya dan suami masih santai2 saja. Wara wiri sana sini dan bekerja. Walaupun ada saja yang KEPO bertanya “kok belum hamil2 sih? sengaja ya ditunda?” dan pertanyaan sejenis yang menurut saya seharusnya ditujukan ke Tuhan.

Masuk tahun ke 5, kami memutuskan untuk periksa keadaan masing2. Akhirnya pergilah ke klinik kesuburan di jl. Wijaya. Saya menjalani pemeriksaan lengkap termasuk HSG (tindakan paling tidak nyaman dari semua tindakan yg pernah saya jalani)
Hasil yg didapat, tubafalopi kiri sedikit lebih sempit dibanding yang kanan. Suami juga cek sperma. Dari hasil pemeriksaan, kualitasnya kurang bagus dan jumlahnya sedikit+ada varises di saluran reproduksi. Lalu dilakukanlah operasi pengangkatan varises itu.
Setelah itu kami belum sempat lagi berkunjung ke klinik tersebut untuk pemeriksaan lanjutan karena masalah waktu dan mempertimbangkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Kalau boleh jujur, kami kurang nyaman pada antrian yang berjam2, dan ketika bertemu dokter, beliau hanya membacakan hasil pemeriksaan kami dalam waktu tidak sampai 5 menit lalu bertanya: “ada pertanyaan?”
Laaahhhh, ini saja baru dibacakan dan kami sedang mencoba mencerna, langsung di tanya balik begitu ya kami bengong ??

Beberapa bulan kemudian, teman dekat saya memberitahu kalau salah satu teman kami berencana mau program bayi tabung di Penang. Saya langsung tertarik ikut juga. Untungnya suami antusias dan mendukung sekali keinginan saya.

Bulan februari kami konsultasi pertama kali ke Penang. Tepatnya ke dr. DEVINDRAN MUNIANDY di RS Loh Guan Lye Hospital. Baru kali ini kami bertemu dokter dan langsung merasa sreg. Beliau fasih berbahasa melayu (menguntungkan untuk yang kurang menguasai bahasa inggris), memiliki raut wajah yang tenang dan selalu tersenyum. Selama konsultasi, kami tidak ngerasa diburu2. Beliau menerangkan dengan nada yang tenang sehingga kami pun merasa lebih santai. Saya langsung di USG dan kami dirujuk ke lab untuk melakukan pemeriksaan darah dan sperma suami. Sore hari kami balik ke rumah sakit dan langsung dibacakan hasil lab yang Alhamdulillah semua hasilnya bagus (kalau di Indonesia bisa/tidak ya secepat itu?).

Selama jeda waktu itu, saya selalu “keep in touch” by email dengan dr. Devindran. Semua pertanyaan2 saya selalu dijawab langsung oleh beliau. Sebagai pasien, saya merasa diistimewakan. Belum pernah sekalipun bertemu dokter yang mau meluangkan waktu menjawab pertanyaan2 pasien (yang pasti bukan dari saya saja) secara langsung. Yang pernah saya jalani di Jakarta, saya selalu berkomunikasi via asisten dokter.

26 April 2015
Haid hari pertama, saya seorang diri berangkat ke Penang untuk memulai program (program yang dipilih: Short Protokol atau mereka menyebutnya Antagonist Protocol yang dimulai pada haid hari kedua). Suami belum bisa ikut karna tidak bisa ijin kantor terlalu lama dan belum dibutuhkan juga untuk menjalani program. Ketika saya tanya apa yang sebaiknya saya lakukan selama program ini, jawab dr. Devindran: “happy happy and go shopping”
Hihi.. Dokter yang satu ini sangat mengerti wanita pastinya ^o^

Antagonist Protocol (IVF)

27 April 2015
Suntikan pertama dilakukan pada haid hari kedua di daerah perut. Suntikan bertujuan untuk memperbanyak sel telur yang dilakukan setiap pagi sampai hari ke-10. Suster yang mengajari saya menyuntik super duper sabar. Sampai 2 hari berturut2 saya diajari (kebetulan penginapan dengan rumah sakit jaraknya dekat. Jadi setiap jam 9pagi saya ke RS hanya untuk belajar suntik dengan suster Jennifer) baru percaya diri menyuntik sendiri ?

28 April 2015
Saya mulai menyuntik sendiri (jujur, tadinya takut sekali membayangkan akan menyuntik sendiri). Tapi setelah dijalani, ternyata tidak sehoror yang diduga.

2 & 4 Mei 2015
Jadwal USG untuk melihat perkembangan sel telur. Hasil terakhir, terlihat ada 26 sel telur.

6 Mei 2015
Dilakukan Ovum Pick Up (OPU) atau pengambilan sel telur. Saya dibius lokal. Waktu yg sama dilain tempat, suami saya menyerahkan sperma nya ke lab.
Setelah itu, sperma suami di pertemukan dengan sel telur yang diambil tadi ke dalam tabung (IVF) dan ada juga yang di suntikkan ke sel telurnya langsung (ICSI). Lalu jadilah embrio2. Dipilih yang kualitasnya bagus saja.
Dokter menyarankan saya konsumsi putih telur 6-9butir/hari untuk mengurangi pembengkakan pasca OPU.

7&8 Mei 2015
Istirahat

9 Mei 2015
Embrio Transfer (ET). Diruang persiapan akan disuruh minum hingga kantung kemih penuh dan tahan untuk tidak BAK. Setelah tindakan, akan dipindah ke ruang recovery dan masih disuruh tahan untuk tidak BAK selama 1/2 jam ke depan. Setelah itu kita akan disediakan pispot oleh perawat karna saya harus tetap ditempat tidur. Di ruang recovery sekitar 2-3 jam baru boleh pulang.
Dari 26 sel telur yang saya hasilkan, yang berhasil jadi embrio sebanyak 9. Lalu 2 embrio dimasukkan ke rahim saya tanpa anastesi. Prosesnya tidak sakit sama sekali. Hampir sama seperti Pap Smear rasanya.

12 Mei 2015
Saya dan suami kembali ke tanah air

13-20 mei 2015
2 weeks wait (2ww) yang tadinya saya pikir akan terasa lama karna stay di rumah terus, ternyata tidak sama sekali. Entah kenapa seminggu pertama dirumah saya seperti kehilangan kekuatan untuk berktifitas. Sebagian besar waktu saya habiskan dengan tidur. Keadaan seperti ini tergantung kondisi fisik masing2. Jadi tidak semua seperti saya.
Di minggu kedua baru mulai menjelajah dalam rumah.

21 Mei 2015
Hari pembagian raport pun datang. Saya dan suami sudah pasrah. Karna begitu mau memulai program ini pun kami sudah siap untuk kemungkinan terburuk. Dan semua keluarga udah saya ingatkan untuk jangan berharap terlalu banyak (PENTING!)
Masuk ke ruang dr. Devindran setelah pemeriksaan darah di lab, saya berusaha sekali untuk terlihat santai. Padahal jantung serasa mau copot saking deg2annya -__-
Wajah dr. Devindran terlihat sumringah ketika saya masuk ke ruangannya. Lalu menjabat tangan saya sambil berkata:”congratulations! you’re pregnant”
Saya rasanya seperti mau lompat2 saking senangnya ?
Akhirnya saya di USG dan melihat embrio sebesar kacang hijau. Terimakasih ya Allah, terimakasih dr. Devindran, terimakasih keluarga dan tmn2 yang sudah support saya selama proses ini.

Di Jakarta, saya selalu konsultasi dengan dr. Handi Suryana di RS. PIK sesuai rekomendasi dr. Devindran. Sebelumnya saya dan suami berencana mencari dokter kandungan yang di dekat rumah saja. Tapi setelah bertemu dengan dr. Handi, kami langsung merasa sreg seperti yang kami rasakan ke dr. Devindran. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap ke dr. Handi.
Demikian pengalaman IVF kami..

Pesan penting sebelum mulai program bayi tabung:

  • Pasrah!! harus siap gagal. Kalau belum siap, lebih baik jangan bayi tabung dulu. Apalagi kalau masih ada masalah yang memberatkan pikiran.
  • Dan pesan ke keluarga dekat “dont’t expect too much”. Agar kita juga tidak tertekan ketika menjalani program.
  • Biaya memang tidak sedikit. Tapi kalau dibandingkan dengan biaya kami bolak balik ke dokter di Jakarta dan hasilnya tidak jelas, ya lebih murah di Penang. Dan yang penting, lebih memuaskan (buat kami)
  • jalani proses dengan sabar dan lapang dada
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.75 out of 5)
Loading...

Info Biaya Melahirkan di RS Surabaya – Yoanita

Selamat malam,

Saya membutuhkan info biaya persalinan di rumah sakit daerah surabaya beserta dokter dokter nya yg kira2 komunikatif dan pengalaman menangani kelahiran bayi kembar 3..
Sebab sekarang kehamilan saya sudah masuk minggu ke 9 dan sudah di sarankan mencari dokter untuk kelanjutan kehamilan saya, sebelumnya saya menjalani prigram bayi tabung di Dr, Auky Siloam.

Apabila ada teman2 yg sudah pengalaman melahirkan baik normal maupun caesar, saya mohon di bantu info biaya persalinan nya.

Terima kasih ^^

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Berbagi pengalaman keberhasilan proses bayi tabung aka IVF di RS. Family Pluit, Jakarta. – Thomas

Kami menikah tahun 2004 dan sudah menikah 10 tahun dan belom dikaruniai anak. Sejak nikah saya pindah ke Taiwan karena memang istri saya orang Taiwan. Tahun pertama menikah istri saya memang berencana tidak punya anak dulu dan saya pun menganggap santai mengenai hal ini. Tahun kedua kami mencoba punya anak tapi tidak serius, jalani apa adanya dan istri saya juga melakukan HSG untuk melihat apakah ada sumbatan atau tidak dan hasilnya normal2 saja.

Waktu berlalu sampai kami tidak focus dan lupa untuk memiliki anak. Lingkungan di sekitar kami di Taiwan yang memang jarang anak kecil dan banyak temen2 di Taiwan tidak mempunyai anak ataupun belom menikah, jadi kami tidak ada pacuan untuk memiliki anak secara serius. Untuk sekedar infomasi, di Taiwan memang birth rate nya minus, jadi banyak yang meninggal daripada yang lahir, dikarenakan situasi Taiwan yang memang banyak membuat orang tidak ingin punya anak bahkan banyak perempuan2 yang tidak mau menikah, sudah menikah pun banyak yang tidak mau punya anak. Bahkan sampai pemerintah Taiwan pun memberikan insentif untuk mendorong warganya punya anak. Salah satu sebabnya, ga ada yang urusin, kalo di Indonesia kan enak ada babysitter, disana walaupun ada, pasti mahal sekali dan itu pun beda dengan babysitter di Indonesia yang mungkin bisa urus sampai bayinya mencapai paling dikit umur 1 tahun, bahkan lebih.

Tahun 2010, dimana saya baru punya BB dan FB dan terhubung dengan teman2 di Indonesia dimana mereka rata-rata sudah mempunyai anak, dikit2 status di BB atau FB selalu mengenai anak dan ketika saya pulang ke Indonesia dan bertemu dengan mereka (tahun dimana disana sini ada reuni dengan teman lama), intinya selalu mengenai anak dan akhirnya saya terpacu untuk secara serius memiliki anak. Dimulai dengan inseminasi, sinshe, pergi ke berbagai dokter berdasarkan referensi teman dan saudara, sampai yang berhubungan dengan hal gaib karena di Taiwan banyak sekali kuil untuk orang yang tidak punya anak, tapi yang terakhir ini, kami tidak terlalu percaya terlebih bila ada kuil yang minta persyaratan macem2, bila seperti wihara biasa dan kami berdoa, akan kami jalani.

Pernah kami bela2in drive selama 4 jam untuk ke kuil diluar kota Taipei karena direferensi oleh rekanan kami, kalo kuil ini khusus untuk pasangan yang ingin mencari keturunan. Setibanya disana kami di briefing dan ujung2nya bila berhasil ada persyaratannya, yaitu kami harus menyumbang tiap tahun sebesar NTD20000 (setara Rp 8jt dengan kurs sekarang 2014). Wuah, ada satu keterikatan, kalo berhasil pasti saya akan nyumbang tapi kan gak tiap tahun. Kuil ini sangat besar dan indah, terletak di sisi gunung, mungkin manjur makanya besar karena banyak dana yang masuk. Dan salah satu syarat lagi, kami harus mengusap kepala patung Budha yang berjumlah 500 patung sambil mengucapkan amitofo. Berhubung sudah jalan jauh, saya pikir sayang untuk balik lagi. Akhirnya kami jalanin dengan mengusap patung Budha tersebut, dengan cuaca panas dan kondisi letak patung yang tidak beraturan dan posisi patung berada didataran miring, akhirnya kami nyerah ketika menyentuh patung yang ke 50. Saya berpikir, kalo hati udah ga sreg, percuma dilanjutkan. Alhasil kami pulang sia2.

Balik lagi ke usaha kami untuk mendapatkan anak, setelah inseminasi 2 kali dan pergi kebanyak dokter, akhirnya kami putuskan untuk bayi tabung di tahun 2011. Saya search di google tentang dokter IVF yang bagus di Taiwan, akhirnya saya menemukan 1 dokter di daerah Taichung (2 jam drive dr Taipei via toll, jaraknya kira2 jakarta to bandung) dan rata2 orang Taichung mengenal dokter ini. Dokter ini memang sangat ramai dan dengan kondisi klinik yang kecil, bisa dibayangkan betapa semrawutnya pasien yang menunggu. Tidak hanya pasien local, saya lihat banyak pasien dari mancanegara seperti bule, Korea, Jepang. Saya pede banget dengan dokter ini, karena melihat kondisinya yang ramai sekali ditambah adanya pasien mancanegara.

Singkat cerita, kami start Januari 2011 dan selama itu dokter mencoba memberikan obat hormon dan menyuruh kami untuk mencoba normal terlebih dahulu selama beberapa bulan dikarenakan tidak diketemukan masalah kesuburan diantara kami berdua. Sampai bulan April 2011 tidak berhasil juga akhirnya diputuskan untuk bayi tabung. Pada saat OPU hanya terambil 4 telur matang, rasa kecewa sudah mulai terlihat karena saya banyak baca di internet, banyak yang dapat telurnya lebih dari 10, berbekal bahwa telur banyak atau sedikit tidak menjadi patokan, akhirnya saya mencoba untuk tenang. Kekecewaan berikutnya datang lagi, jadwal ET semestinya hari sabtu, berhubung penuh, dipindah ke hari senin karena minggu tutup. Soalnya kami pernah baca review seseorang di internet dengan kejadian yang sama, mestinya OPU hari sabtu berhubung penuh jadi di pindah ke hari senin dan hasilnya gagal, karena kelamaan. Berdoa supaya kejadian itu tidak menimpa kami, kami mencoba tenang dan pasrah karena mungkin itu udah jalannya. Oh yah sejak proses OPU kami menyewa apartemen di daerah Taichung supaya kami tidak bolak balik Taipei yang lumayan jauh.

Pada proses ET, hanya 1 embrio yang bisa ditransfer, 3 lainnya rusak, benar saja perkiraan kami, rasa pesimis pun tambah dalam. Kami pun menunggu dengan was was di apartemen selama 2 minggu. Ada beberapa hal yang tidak di perhatikan oleh istri saya selama proses menunggu, entah berhubungan atau tidak tapi apa salahnya kalo kita bisa jalanin, jalanin aja, seperti misalnya jangan makan coklat, jangan minum teh, harus bedrest, jangan banyak bergerak. Alhasil setelah 2 minggu menunggu, hasilnya negative, sedih, kecewa, kesal, semua jadi satu. Setelah mengetahui hasil yang negative kami kembali menemui dokternya dan ingin tahu apa rekomendasi selanjutnya. Ketika kami ketemu dokter utamanya, dia periksa lagi foto embrionya dan mengatakan bahwa embrio yang di transfer tidak dalam kondisi bagus, WHAAATTTT!!! Pdhal dia sendiri yang melakukan ET dan mengatakan kepada istri saya pada saat ET bahwa tersisa 1 embrio dengan kondisi grade A. Kami tidak bisa berbuat apa, menuntut dokternya? Sangat tidak mungkin, dan dokter itu lalu menyarankan untuk langsung lanjut IVF lagi dan kami langsung memutuskan tidak.

Setelah IVF pertama gagal, istri saya mencoba inseminasi lagi dan gagal, jadi total sudah 3x inseminasi, setelah gagal inseminasi, istri saya mencoba pengobatan akupuntur di Taiwan selama 1 tahun, juga tidak berhasil dan setelah dihitung2 pada akhir pengobatan, biayanya bisa kami pakai untuk 2x bayi tabung. Oh yah biaya IVF di Taiwan waktu kami melakukan IVF di Taichung totalnya kurang lebih NTD 120.000 (Rp 48jt dgn kurs saat ini, kalo dengan kurs saat itu Rp 36jt), ini sudah termasuk semua obat2an dari sejak kami menemui dokter itu dari bulan Januari 2011, murah yah?? Karena sebagian di cover sama asuransi dan obat2an seperti Gonal F disana lebih murah di banding Jakarta.

Setelah di timbang2 dan dipikir matang2, kayaknya kami harus balik ke Indonesia, pertama memang kondisi di Indonesia yang sangat mendukung, paling utama yah ada pembantu, bisa bantu kerjaan rumah, beda dengan waktu kami di Taiwan, kerjaan rumah kami kerjakan berdua dan bagi tugas. Juga situasi di Indonesia yang lebih relax. Tahun 2013 kami putuskan untuk menetap di Indonesia, semestinya kami rencana langsung bayi tabung di Indonesia setelah kami pulang ke Indonesia, tapi berhubung ada beberapa kerjaan yang masih mengharuskan saya bolak balik Taiwan, kami tunda dulu dan selama itu kami mencari informasi mengenai RS mana yang paling bagus dan suitable buat kami untuk bayi tabung.

Banyak dari teman saya yang menganjurkan untuk pergi ke KL, klinik TMC Damansara dan rata2 teman saya berhasil di sana dan juga ke Penang atau Singapore. Cuma saya pikir, ngapain jauh2 kesana, mesti bolak balik, belom lagi tempat tinggalnya dan juga ga ada kendaraaan pribadi, belom lagi biayanya yang pasti bengkak, akhirnya saya putuskan tidak. Prinsipnya, dimana2 sama aja, proses IVF sendiri itu sudah standard di seluruh dunia, yaitu pembentukan embrio di luar kandungan, sisanya terserah yang DIATAS. Terakhir ada yang menyarankan untuk ke Surabaya dengan Dr. Aucky karena salah satu teman saya baru berhasil di sana setelah mondar mandir bolak balik, Malaysia, Singapore, Jakarta dan terakhir di Surabaya dia berhasil. Tapi pertimbangan saya tetap seperti kalo misalnya kami harus ke Malaysia atau Singapore, repot bulak baliknya, tempat tinggal, kendaraaan, dll. Mungkin di Surabaya lebih mudah drpd di Malaysia atau Singapore tapi tetep aja, jauh dari Jakarta. Jadi akhirnya saya putuskan untuk tetap IVF di Jakarta dan pilihannya RS. Bunda dan RS. Family.

Oh yah, selama 2013 ini, kami direferensikan untuk pengobatan alternative. Yang merekomendasikan ini sudah 4 tahun gak punya anak dan berobat alternative dengan diurut selama 3 bulan lalu berhasil punya anak. Awalnya saya gak begitu percaya dengan pengobatan semacam ini, tapi saya pikir, ga ada salahnya dicoba dan juga lokasinya yang dekat banget dengan rumah kami. Kami target 3 bulan untuk pengobatan ini, bila tidak berhasil kami langsung lanjut ke IVF.

Singkat cerita 3 bulan pengobatan alternative ini tidak berhasil dan kami memutuskan untuk langsung IVF dan akhirnya saya memutuskan untuk program IVF di RS. Family Pluit. Pdhal teman saya yang berhasil dengan Dr. Aucky, baru saja program di RS. Family ini dan tidak berhasil tapi ini tidak membuat saya untuk berubah keputusan, karena yah itu, prinsipnya sama aja karena teorinya sama. Saya akhirnya pilih RS. Family Pluit ini karena paling dekat aksesnya dari rumah saya, oh yah, saya tinggal di Modernland, Tangerang. Dan memang tentu ada pertimbangan yang menguatkan saya juga untuk akhirnya memilih RS. Family Pluit ini, salah satunya, Dr. Muchsin Djaffar adalah Dokter pertama di Indonesia yang berhasil mengembangkan bayi tabung dan beliau adalah ahli embryologist, kami pun bertambah pede dan juga pelayanan RS khusus di Fertility Centernya terutama suster2nya yang ramah dan sangat kooperatif setiap waktu.

Kami memulai program di RS. Family bulan Februari 2014, kami langsung menemui Dr. Muchsin Djaffar sebagai kepala tim IVF RS. Family dan konsultasi dengan beliau, orangnya ramah, murah senyum dan murah ketawa dan tidak pelit untuk memberikan informasi. seperti biasa, istri saya disuruh cek darah untuk periksa hormon dan juga cek sperma saya ( ini cek yang ketiga, dua kali di Taiwan), hasilnya normal. Dan hasil darah istri saya, hormone FSH terlalu tinggi dan dokter memberi kami vitamin Ovacare ( untuk wanita) dan Oligocare (untuk pria) dan juga satu vitamin untuk istri saya yaitu DHEA, DHEA ini untuk menurunkan hormon FSH yang terlalu tinggi di hasil pemeriksaan istri saya. Dan juga kadar AMH istri saya yang sangat rendah yaitu cuma 0.3, yang mana kalau kadar AMH nya rendah, produksi telurnya juga semakin menurun. Menurut dokter, ini adalah pengaruh umur, dimana semakin tua kadar AMHnya semakin rendah. Pada saat proses IVF ini, istri saya sudah berumur 38thn. Tapi kami tidak patah semangat dan dokter terus menguatkan kami dan banyak doa semoga bisa berhasil. Berbekal informasi yang diberikan dokter, proses IVF diatas umur 35thn bisa mengecilkan persentase kemungkinan untuk hamil dibanding melakukan IVF dibawah 35thn.

Jadi yang masih menunggu, saya menyarankan untuk segera ikut proses bayi tabung sebelum semuanya terlambat. Saya juga awalnya berat untuk keluarin biaya bayi tabung tapi prinsipnya uang itu bisa dicari tapi umur gak bisa di beli. Jadi berapapun biayanya dan selama saya masih mampu, saya akan all out untuk program kali ini, karena umur yang terus bertambah, tau2 sudah kepala 4. Beruntung jaman sekarang ini ada program bayi tabung, yah paling ga untuk mencapai phase embrio aja udah terima kasih banget, paling ga sperma saya dan sel telur istri saya bisa menyatu menjadi embrio. Selain masalah biaya, saya juga tipe orang yang semuanya ingin normal, seperti halnya pasangan suami istri yang mempunyai keturunan, ini adalah hal normal. Begitu juga proses mempunyai keturunan, saya inginnya yang normal, tapi ada daya setelah 10 tahun menikah kami tidak bisa mempunyai keturunan dan satu2nya jalan yah IVF ini, walaupun sudah mengeluarkan biaya besar tidak menjamin untuk bisa mempunyai keturunan tapi paling engga kita udah berusaha, yang namanya berusaha pasti ada hasilnya dan itu pasti karena saya sudah mengalaminya dalam kehidupan saya, jangan menyerah.

Balik lagi ke proses IVF di RS. Family, setelah pemeriksaan hormon dan sperma, istri saya juga di sarankan untuk periksa saluran indung telur yaitu HSG, mereka menyarankan HSG di tempat yang paling dekat dengan rumah kami dan kami putuskan untuk HSG di RS. EKA BSD. Hasilnya normal dan tidak diketemukan sumbatan. Kedatangan berikutnya salah satu tim dokter menyarankan untuk Hysteroscopy, yaitu pemeriksaan ruang dalam rahim dengan camera, jadi bisa terlihat kondisi dalam rahim, dimana proses menempelnya embrio di rahim dipengaruhi oleh lingkungan rahim yang sehat dan bersih supaya embrio bisa menempel kedalam rahim dan terjadi kehamilan. Pada saat pemeriksaan hasil Hysteroscopy, ditemukan bercak2 putih pada dinding rahim dan dokter menyarankan untuk di kuret (Curretage). Kaget juga saya, soalnya image saya mengenai kuret ini adalah cuma pada saat orang keguguran atau hamil anggur, ini kok istri saya ga pernah hamil kenapa di kuret. Tapi ini jelas pandangan saya sebagai orang awam dan kami memutuskan untuk mengikuti saran dokter. 2 hari kemudian dilakukan kuret, agak cemas juga, soalnya setelah baca2 di internet mengenai kuret, banyak efek sampingnya kalo kuretnya tidak hati2. Tapi yang kami cuma bisa pasrah dan yang pasti saran dari dokter pasti mereka juga ingin yang terbaik untuk pasien2nya.

Setelah proses pra bayi tabung selesai, bulan maret tim dokter mulai spesifikasi untuk memeriksa jumlah follicle yang ada di indung telur, karena AMH yang rendah otomatis kondisi jumlah telur sangat terbatas. Pada bulan maret ini, cuma ada 4 follicle yang terlihat dan tim dokter menyarankan untuk menunggu bulan depan dengan harapan telurnya tambah banyak dengan menyarankan istri saya untuk tetap minum vitamin yang ada dan juga pada bulan maret ini istri saya sedang flu berat, jadi saya juga setuju dengan dokter. Pada bulan april, kami kembali cek follicle dan dokter menemukan 5 follicle dan diputuskan untuk memulai program IVF dengan pemberian suntikan Gonal F. Sebelum proses, suster memberikan briefing mengenai biaya2nya, yaitu dengan program paket, paketnya sebesar 60jt (April 2014) yang termasuk Gonal F, Cetrotide dan Pergoveris dan dengan jumlah takaran tertentu, jika pemakaian diluar takaran sesuai paket maka akan ada biaya tambahan dan harus lunas sebelum OPU.

Satu hal yang saya tidak temui di Taiwan ketika proses IVF kami yang pertama kali, yaitu tim dokter di RS. Family begitu care dengan perkembangan hasil penyuntikan obat2 hormon untuk IVF ini. 5 hari pertama, istri saya menyuntikan sendiri dirumah, setelah 5 hari, penyuntikan selanjutnya di lakukan di RS, hal ini dikarenakan tim dokter memantau perkembangan hasil penyuntikannya secara detail dengan USG day by day. Bilamana di USG terlihat telurnya kurang terstimulasi dengan obat2 hormon, maka dosisnya akan ditambah, bila dirasa sudah cukup, dosisnya akan dikurangi. Terus terang saya salut dengan yang bagian ini, karena di Taiwan sewaktu proses penyuntikan Gonal F dan lain-lainnya, istri saya lakukan sendiri straight tanpa datang ke dokter karena memang dokter menyarankan seperti itu, balik ke RS langsung OPU.

Hasil akhir dari penyuntikan, dosis yang diberikan melebihi standar dosis yang ada di paket, alhasil kami harus menambah biaya sebesar +/- 15jt, yang jadi menambah beban berat saya. Tapi yah karena memang harus dibayar yah kami tetap bayar dengan harapan apa yang kami sudah keluarkan tidak menjadi sia2.

Tiba saatnya untuk OPU, istri saya masuk ruangan untuk pengambilan telur dan saya proses pengeluaran sperma setelah itu saya menunggu diluar. Saya berharap2 cemas karena USG terakhir sebelum OPU, dokter memperkirakan hanya 3 telur yang bisa diambil, maksimal 4. Teringat waktu kami IVF pertama kali di Taiwan, hanya 4 telur yang berhasil di ambil dan hanya 1 embrio yang bisa masuk. Tapi saya pasrahkan saja dengan yang Diatas. Kurang lebih 20 menit, suster keluar untuk memberitahukan bahwa ada 5 telur yang berhasil di ambil dan saya sudah bersyukur mendengarnya, karena estimasi hanya max 4 telur yang bisa diambil. Tidak lama kurang lebih 5 menit kemudian susternya keluar lagi dan memberitahu bahwa akhirnya ada 6 telur yang bisa diambil. Saya makin senang karena menurut pemikiran saya, kesempatannya jadi lebih besar lagi dan saya sangat berterima kasih kepada tim dokter terutama Dr. Malvin Emeraldi (Dokter yang satu ini, ramahnya kebangetan alias ramah banget, friendly dan suka bercanda) yang sudah bersusah payah dan mengusahakan yang maksimal untuk kami berdua. Dan ternyata Dr. Malvin ini anaknya Dr. Muchsin Djaffar, ketua tim IVF RS. Family, jadi kualitas proses IVF di RS. Family Pluit, semakin memantapkan saya untuk terus melangkah, melanjutkan proses bayi tabung.

Pada hari ketiga setelah OPU, kami kembali ke RS untuk proses ET. Oh yah sehari setelah OPU dan menjelang ET, kami diberitahu oleh teman untuk berdoa di wihara yang ada Dewi Kwan Im, rencananya kami ingin sembahyang di wihara ancol tapi karena lokasinya yang jauh, akhirnya kami berdoa di wihara pasar lama, Tangerang. Bagian ini penting karena biar bagaimanapun, dokter dan manusia hanya bisa berusaha tapi tetap di Atas yang menentukan dan Dewi Kwan Im ini hanya perantara bagi kita untuk menyampaikannya ke Tuhan Yang Maha Esa ( ini berdasarkan kepercayaan saya dan istri ). Untuk yang beragama lain, intinya kita meminta kepada Tuhan atas usaha kita untuk mempunyai anak. Seperti anak yang ingin meminta sesuatu kepada orang tuanya, kalo anaknya ga pernah ngomong dan minta, orang tuanya juga tidak tahu kan keinginan anak, begitupula hubungan kita dengan Tuhan. Jadi banyak-banyak doa memang salah satu faktor keberhasilan bayi tabung. Terus terang selama ini saya tidak pernah berdoa di wihara, karena saya pun tidak pernah beribadah kemana-mana.
Kembali ke ET, sebelum pelaksanaan embrio, kami bertemu dan di briefing oleh Dr. Muchsin Djaffar selaku ketua tim IVF RS. Family Pluit mengenai perkembangan embrio dalam 3 hari terakhir. Dari 6 sel embrio di Hari pertama, semua berbentuk menajadi embrio, di hari kedua, 2 embrio rusak dan 4 masih membela menjadi beberapa sel dan hari ketiga, 2 embrio masih berkembang dan membelah lagi menjadi beberapa sel dan 2 stuck alias kondisinya sama dengan hari kedua. Dokter menanyakan kepada kami, berapa embrio yang kami inginkan untuk ditransfer dan kami berdua langsung menyebut angka empat, karena menurut pemikiran awam kami, makin banyak makin besar peluangnya. Dan dokter pun setuju untuk memasukan 4 embrio tersebut dan di estimasi kemungkinan untuk 4 embrionya jadi janin hanya 1 persen dan kami pun gak masalah, yang penting ada yang bisa jadi janin kami sudah sangat bersyukur.

Sesudah proses ET, kami berencana agar istri saya untuk bedrest total dan memutuskan untuk stay di RS. Family untuk beberapa hari, ini demi menjaga proses transfer dan penempelannya berlangsung sesuai harapan kami. Dokter sih menyarankan tidak perlu karena memang secara medis tidak terbukti hal ini bisa membantu. Tapi kami ikutin aja suara hati dan kamipun memutuskan untuk tetap stay selama beberapa hari di RS. Setelah stay 3 hari 2 malam di RS, kami pun kembali ke rumah dan istri saya benar-benar bed rest total. Hanya ditempat tidur dah tidak kemana2 bahkan mandi pun hanya pakai handuk basah. Kembali kepada dunia medis, Dokter memberitahu kami bahwa bed rest tidak secara medis terbukti dapat menambah prosentase keberhasilan bayi tabung tapi menurut pengalaman kami dan saran dari teman-teman, bedrest ini penting juga dan terbukti menjadi salah satu faktor keberhasilan bayi tabung.

Selama bedrest, berikan perhatian lebih kepada istri dan ini tugas suami, supaya istri relax dan tidak penuh tekanan, berikan pijatan2 atau peluk dengan penuh kasih saying, jangan biarkan istri turun dari tempat tidur sedikitpun, kecuali untuk buang air dan itu pun harus berjalan dengan sangat hati2. Beruntung saya memiliki waktu banyak untuk menemani istri saya, karena saya ingin all out kali ini dan mengajukan cuti yang sangat panjang, balik lagi pada prinsip saya “uang bisa dicari, tapi umur ga bisa dibeli dengan uang”. Bagi yang tidak bisa cuti, bisa panggil saudara atau pembantu untuk melayani kebutuhan istri selama bed rest.

Tips lainnya adalah bicara dengan embrionya, baik itu oleh suami anda atau istri anda, buat saya, setelah penyatuan sperma dan sel telur, maka terbentuklah embrio, nah setelah proses terbentuknya embrio ini lah, si embrio sudah mempunyai roh dan jiwa dan wajib diajak bicara. Salah satu kalimat yang saya sering ucapkan hampir setiap hari adalah “Semoga kamu bisa berkembang jadi janin, papa mama sudah menunggu lama dan berusaha keras untuk memiliki kamu, terus berkembang dan terus berkembang dari embrio ke janin dan lahir dengan selamat dan sehat”. Tips ini agak janggal memang, tapi apa salahnya untuk berusaha dan tips ini sudah kami sebarkan ke sahabat-sahabat kami yang juga susah punya anak bahkan telah gagal beberapa kali di program bayi tabung. Salah satunya teman istri saya di Taiwan yang sudah berkali-kali gagal proses bayi tabung ini, istri sayapun memberi semangat agar segera melakukan bayi tabung lagi dan ajak bicara embrionya setelah proses ET dan berhasil.

2 minggu setelah proses ET telah kami lalui, gak tega lihat istri saya yang benar2 terbaring sampai 2 minggu demi menunggu si buah hati. Satu hari sebelum kembali ke RS Family untuk test pack, kami berpikir untuk test pack di rumah, tapi takut hasilnya tidak sesuai harapan, maka kami putuskan untuk menunggu sampai esok hari. Oh yah, beberapa hari sebelum test pack, (maaf) daerah sekitar puting istri saya terdapat benjolan-benjolan dan saya rasa ini adalah pertanda kehamilan, pada saat itu saya belum tahu kalau itu tanda2 hamil, saya baru sadar kalau itu tanda-tanda kehamilan setelah kehamilan bbrp minggu, benjolan2 itu semakin banyak dan besar.

Hari H, kami bangun pagi2 sekali karena semalaman sudah tegang antara jadi atau tidak jadi, sepanjang perjalanan saya dan istri sudah menyatakan puas dengan hasil kerja keras tim dokter RS. Family, walaupun seandainya tidak berhasil kami tetap akan mengucapkan terima kasih kepada tim dokter RS. Family, kenapa? Karena kami bandingkan sewaktu kami program bayi tabung pertama kami di Taiwan pada tahun 2011, tim dokter di RS. Family benar-benar care dan lebih detail dalam usaha membantu kami untuk mendapatkan anak. Betapa tidak, test demi test dilakukan untuk memastikan program bisa berlangsung lancar, terutama pada saat proses penyuntikan dan pemberian vitamin yang tepat selama proses pra bayi tabung.

Tiba di rumah sakit, kami makin tegang, istri saya lalu diambil air seninya dan dibawa kedalam, dan kami hanya berharap2 cemas, istri saya sangat tegang sekali waktu itu dan saya mencoba untuk tenang dan mencoba meyakinkan istri saya, kalau kita sudah berusaha, kalaupun sampai gagal, kita akan coba lagi, pokoknya kali ini kami bakal all out terutama dalam segi biaya. Tak lama setelah suster membawa air seni kedalam, suster memberi tahu saya via Whatsapp bahwa hasilnya sangat amat terang dan kemungkinan kembar. Langsung pecah ketegangan saya saat itu, serasa saya ingin memeluk semua orang yang ada didekat saya. Suster rencana menyarankan saya untuk kasih surprise ke istri saya dan jangan langsung kabarin dia setelah saya menerima kabar dari WA. Tapi pas melihat raut wajah istri saya yang sangat amat tegang banget, saya cium pipinya dan bilang ke dia bahwa hasilnya positif, pecahlah tangis kebahagiaan istri saya dan saya pun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan saya, pecah lah air mata saya. Dan 2 hari lagi setelah kabar bahagia ini adalah ulang tahun perkawinan kami yang ke 10. Hari itu adalah hari yang sangat amat bahagia buat kami, pengorbanan biaya, waktu dan pikiran terbayar sudah. Dalam hidup saya, tidak ada hari yang seindah hari itu.

Yang pertama saya kabarin selain istri saya yaitu orang tua saya, mama saya pun menangis bahagia, maklum ini cucu pertama mereka yang sangat mereka tunggu2. Bagi sebagian orang Taiwan, pemberitahuan kehamilan adalah setelah 3 bulan kehamilan, tapi begitu sampai dirumah, istri saya hanya memberitahu orang tuanya. Tunggu sampai 3 bulan baru kasih tahu semua keluarga dan teman dekat. Hari itu kami seolah-olah tidak percaya dengan hasilnya saking senangnya, bukannya tidak percaya dengan test pack tapi seolah-olah kami sedang bermimpi dan benar-benar mujizat kalo istri saya bisa hamil, istri saya pun benar-benar tidak menyangka bahwa perjuangan kita telah membuahkan hasil. Sampai hari ini pun kadang-kadang saya berasa tidak percaya kalo saya akan segera menimang si kecil (tulisan ini dibuat ketika istri saya sudah mengandung 9 bulan).

Dan setelah mengetahui kabar positif ini, saya baru merasakan bahwa tekanan batinnya jadi makin besar, si embrio belom berkembang sepenuhnya, masih banyak liku-likunya. Saya jadi lebih tertekan dibanding menunggu hasil selama 2 minggu kemarin itu. Selama 2 minggu menunggu hasil, saya bawa santai, saya tidak ingin terlalu memikirkan karena betapapun stress dan tegangnya kita menunggu hasil, tidak akan merubah keputusan Tuhan untuk memberikan kita keturunan atau tidak. Jadi yah saya bawa santai aja, kalo gagal tinggal coba lagi dan saya juga selalu menasehati istri saya supaya tidak terlalu tegang, just relax and let God take care the rest tapi sebenernya tetap aja tegang tapi tidak setegang dan tertekan waktu proses IVF pertama kali.

Sejak hasil test pack positif, kami dianjurkan untuk memeriksa kandungan seminggu sekali agar dokter bisa memonitor perkembangan embrio dengan seksama. Pertama kali USG sejak dinyatakan positif, dokter melihat dua kantung janin di rahim istri saya dan hasilnya memang benar-benar kembar. Thanks God, seandainya dapat satu pun kami sudah sangat bersyukur, tapi ini dikasih 2 sekaligus, PAHE, Paket Hemat, bayar 1 dapat 2.

Lepas 3 bulan, kami sudah tidak rutin memeriksakan kandungan ke dokter tapi pas setelah lepas 3 bulan, istri saya keluar flek merah yang lumayan banyak, bagai disamber petir, kami kuatir sekali karena ini pertama kali istri saya hamil dan masih newbie jadi masih bener-bener awam dan pada saat itu lagi libur lebaran. Beruntung tim IVF di family punya suster-suster yang baik hati dan siap setiap waktu. Saya WA salah satu suster senior, beliau menyarankan untuk langsung ke RS untuk cek dan menanyakan kondisi istri saya pada saat keluar flex, beliau bilang tidak bahaya tapi tetap menyarankan kami untuk datang.

Hari berlalu, sampai tiba waktunya dan tinggal menghitung hari. Oh yah, tips buat calon papa mama, jangan pernah capai atau malas untuk berbicara ke jabang bayi, roh dan jiwa mereka sudah disekitar kita. Bicara lah yang baik-baik seperti kita sedang menasehati anak kecil seperti misalnya jangan bandel di dalam, tetap sehat dan berkembang karena papa mama sudah menunggu lama sekali dan sudah gak sabar untuk melihat kalian, jagain mama supaya tidak terjadi apa2 selama kehamilan dan waktu melahirkan.

Sekedar tips untuk memilih klinik bayi tabung berdasarkan prinsip dan pengalaman saya,
Pada dasarnya prinsip bayi tabung adalah menyatukan sel sperma dan sel telur di luar rahim, jadi semua dokter memiliki metode yang sama, hanya bisa menghantar sampai embrio dan penanaman embrio, selanjutnya terserah Yang Maha Kuasa. Jadi saran dan ajakan teman kami, untuk program bayi tabung di Kuala Lumpur, Penang, Singapore, Surabaya, dll tidak kami jalankan karena satu yaitu repot bulak balik, belom lagi mesti sewa apartemen dan harus stay didaerah asing, rumah sendiri adalah tempat yang paling nyaman dan relax. Saya memilih RS. Family Pluit karena aksesnya yang paling dekat dari tempat saya tinggal, yaitu di Tangerang dan saya beruntung karena Tim IVF di RS. Family memang benar-benar mengutamakan kekeluargaan, teliti dan detail, menjaga hubungan yang baik dengan pasien-pasiennya membuat kami nyaman disana. Ini penting, karena bila kita tidak mendapatkan pelayanan yang ramah, seperti misalnya melihat suster yang jutek atau dokter yang tidak informatif, saya mungkin bisa langsung pindah ke RS lain. Bayangkan, pertama kali kita memutuskan untuk ikut program bayi tabung aja, tegangnya udah amat sangat, ketemu pelayanan yang tidak sesuai, emosi bisa gampang naik.

Tim dokter dan tim suster di RS. Family Pluit, patut kami acungin jempol, bahkan bila tidak berhasil pun, kami puas dengan pelayanan mereka. Terima kasih yang sangat tidak terhingga kepada tim dokter dan tim suster RS. Family Pluit yang turut berjuang bersama kami dalam mencapai keinginan kami untuk mempunyai keturunan. Suster yang ramah dan ringan tangan susah dicari, keramahan mereka tidak bisa terbayarkan oleh uang, kami hanya bisa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada beliau-beliau ini. Semoga Tim IVF RS. Family tetap selalu membantu pasangan yang susah mempunyai keturunan.

PS:
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada tim dokter IVF RS. Family,
Dr. Muchsin Djaffar, Sp.PK selaku ketua Tim IVF RS. Family atas pelayanannya yang ramah dan informative.
Dr. Malvin Emeraldi Sp.OG (dokter gaul, enak bercanda dan skillnya yang top dan tidak diragukan lagi, beliau ini dokter favorit kami selama program di RS. Family, orangnya ramah banget dan gaul banget. Terima kasih banyak yah Dr. Malvin atas usahanya mengambil sel telur istri saya secara maksimal dan dengan sempurna mentransfer embrio ke rahim istri saya)
Dr. M. Luky Sp.OG (dokter cool dan sangat kooperatif, terima kasih banyak yah dok, yang sudah berhasil kuret istri saya)
Dr. Yuslam Sp.OG (dokter senior yang senang bercanda dan murah senyum, terima kasih banyak dokter atas bantuannya selama kami ikut program)
Dr. Yuli (dokter junior yang tadinya saya pikir seorang suster hehehe, terima kasih banyak yah dokter atas bantuan dan perhatiannya)
Juga saya mau mengucapkan terima kasih banyak kepada tim suster IVF RS. Family:
Suster Astina, suster senior yang ramah, informative dan selalu membalas WA saya bila saya bertanya-tanya. Suster Astina sangat amat banyak membantu kami mengatasi masalah dan pengarahan untuk pertolongan pertama bila terjadi apa-apa. Terima kasih banyak atas perhatiannya sejak kami pertama kali datang ke RS. Family sampai lahirnya si kembar.
Suster Dian, suster yang murah senyum dan yang pertama kali memberitahu saya via WA kalo hasil test urine istri saya positif dan tebakan beliau pun sangat tepat, hasilnya kembar. Terima kasih banyak yah suster, semoga amal dan budi baiknya bisa dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Juga terima kasih kepada tim suster (Suster Hani, Suster Sri) dan tim laboratorium IVF RS. Family Pluit (Dr. Dianing Amalia, Ine, Anggun Dan Esti).

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading...

Bayi tabung pertama dengan dr Aucky Hinting – Maryamah

Usia saya 24tahun, usia suami saya 26 tahun. Dan usia pernikahan kamipun baru saja 1 tahun . Setiap saya kontrol le dr aucky terus ketemu pasien yang lain, mereka selalu berkata “masih muda ko sudah ikut” saya sendiri sebenernya belum siap di usia semuda ini harus menjalankan program ini. Beda dengan sekarang, saya sudah yakin dan siap dengan segala proses yang harus saya tempuh. Suami saya Oligoasthenoteratozoospermia berat. Jumlah , bentuk dan gerak sel sperma nya betul betul dibawah normal. Awal kontrol dokter aucky sudah bilang ini harus segera bayi tabung, tapi saya dan suami masih berharap bisa diobati. Waktu itu suami dikasih vit vitan dan satu lagi saya lupa. Memang dari awal berobat awalnya nol sel. Akhirnya meningkat menjadi 0,2% . Lalu sebulan kemudian turun menjadi 0,1% . Setelah itu tanpa pikir panjang saya dan suami memutuskan “ok kita jalani program ini”.

Tanggal 20 desember 2014 saya check usg dan pemeriksaan darah. Ada 13 point yg diperiksa, sehingga darahua yg diambil banyak sekali. Saya sampai pucat keringet dingin. Mungkin karena gugup dan gak pernah diambil sebanyak itu. Setelah itu saya di usg oleh dokter ason, satu team dengan dr aucky juga. Kondisi telur saya ada 4 di kiri dan 1 dikanan. Jadi totalnya 5. Dan kondisinya baik baik aja. Hanya waktu itu dokternya blg kondisi letak ovarium saya “agak njelimet” jadi waktu di usg perut rasanya kaya di aduk aduk geli banget asli deh.
Setelah itu suster yg jaga langsung bilang saya jgn pulang, karena siang jam 12 dr aucky datang. Alhamdulillah jadi saya gak bolak balik.

Tibalah dr aucky membacakan hasil tes tes saya yg sebanyak banyak itu tadi. Dr aucky mengatakan kondisi rahim dan pemeriksaan saya baik semua. Kondisi telur juga baik. Saya punya cadangan 5. Jadi mulai sore jam 6 saya langsung di proses untuk suntik gonal 2 ampul. WOW sangat sangat cepet sekali dalam sehari saya melalui proses sekaligus. Tanggal 24 des saya jam 7 pagi ke siloam untuk teat darah dan usg untuk melihat keadaan telur. Waktu usg saya dengan dr mona. Saya tanyakan katanya jumlah telur saya banyak (gak dibilang brp) besarnya rata rata 10mm (saya baru 4x suntik gonal , ukuran seperti itu sudah lumayan bagus untuk yg baru melalui 4x kata beliau )
Jam 11 siang saya ketemu dengan dr aucky untuk dibacakan hasil. Ternyata aucky blg dosis ampul saya perlu ditambah setengah. Biasanya 2 ampul , skrg 2,5 ampul. Waduh! Saya tanya kenapa begitu. Katanya hormon saya hanya diangka 300. Normalnya 400 (karena penjelasannya singgkat, saya juga agak gak paham apa maksudnya) lalu dia blg telur saya bagus. Malah besar besar. Jadi perlu ditambah suntik anti pecah telur . Biar gak pecah duluan. Sambil menyeimbangkan hormon.

Tgl 27 saya uSG yg ke dua setelah proses suntak suntik. Sekalian priksa darah. Waktu di usg saya agak gugup. Dalam hati apa telur saya sudah besar apa belum. Ternyata benar. Jumlah telur saya ada 10. Tapi besarnya rata rata hanya 15mm paling besar cuman 17mm. Agak sedih rasanya. Akhirnya dr aucky blg saya masih perlu suntik gonal 2x lagi. Berarti seluruhnya saya 9x suntik gonal.
Oh iya, saya juga skrg mulai katering khusus bayi tabung. Dengan bu dini. Makanannya enak , dan sangat banyak sekali. Untuk 10hari (3x makan sehari) biaya nya 750.000.

Eng ing eng. tanggal 31 januari 2014. Tibalah saatnya saya OPU. Dateng pagi pagi jam 6 sudah registrasi dll, saya menunggu datangnya panggilan susternya. Saya kebetulan dapat giliran ke dua. Kurang lebih stengah7 saya sudah dipanggil. Langsung ganti baju operasi. Saya dipasangi infus, dan dimasukan obat kurang lebih 15 menit, saya mulai di “eksekusi” waduhhhh rasanya deg deg an. Ruangannya dingin , mulai lah dokter hendro menjalankan tugasnya. Jangan tanya rasanya seperti apa , yg pasti begitu alatnya masuk, itu kaya sakit gigi tapi ada di perut. Nyilu sekali. Saya pun keringat dingin dan sangat mual luar biasa. Hampir saya tidak bisa menahan untuk tidak muntah, karena perut saya sakit juga saya lalu dipasangkan oksigen. Entah gara gara apa saya merasakan mual yg luar biasa. Pdhl yg lain biasa biasa aja katanya. Kurang lebih 15 menit , selesai sudah proses opu. Tapi karena kondisi saya agak lemah, saya masih berbaring sambil dikasih teh sama suster susternya.ya Allah, memang nikmat engkau tidak ada yang terdustakan. Sungguh dalam hati hamba hanya bisa mengingat kuasamu. Hasil opu , dari 25 telur yg diambil. Hanya 10 yg isi .

Tanggal 4 januari jadwal saya ET, jam stengah 7 sudah smpai di siloam. Suster memberi tahu bahwa dari 10 yg dibuahi, hanya 4 yg menjadi blastosis (embrio hari ke5). Sekanjutnya saya disuruh minum air minal 600ml sambil nunggu antrian. Sampai jam 8 belum juga ada tanda tanda mau dipanggil , akhirnya saya tidak tahan lagi untuk pipis, setelah saya ijin suster saya diperbolehkan pipis separo, bayangin gimana caranya pipis separo :)))) trus nunggu lagi, sampe saya kembali kebelet pipis, jam stengah 9 saya kembali dipanggil suster untuk segera ET, ganti baju operasi dll saya langsung dibawa keruang tindakan. Begitu dr hendro masuk , beliau langsung menjelaskan mau dimasukan embrio nya. Bergetar hati saya begitu melihat dilayar usg ada gambar embrio nya. Berwarna putih kalo dilayar. Subhanallah. Sungguh kuasa Allah menciptakan tekhnologi.
Sekarang sudah hari ke 8 pasca ET, 2 hari lagi pembagian raport. Deg deg an. Oh iya kmrn saya hanya sekali disuntik penguat. Dikarenakan perut saya sedang kembung dan berasa penuh. Atas saran dr aucky tidak perlu disuntik lagi. Takutnya OHSS, jadi cukup pakai crinone saja kaya beliau. Semoga saya positif .

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.75 out of 5)
Loading...

Pelajaran berharga saat bayi tabung – Cherry

Salam Kenal!
Saya 28thn dan suami 32thn. Usia pernikahan kami 1.5tahun saat memutuskan untuk program bayi tabung. Alasan kami mengikuti program ini adalah kondisi sperma suami yang OAT. Jumlah sedikit, bentuk tidak sempurna dan pergerakan yang jelek. Keadaan rahim saya normal, hormonal normal, mens teratur dan tidak ada kista atau kelainan lainnya.
PAda awalnya saya sempat syok atas keadaan suami, dan sempat marah dalam hati, kok bisa saya harus mengalami semua ini. Beberapa teman yang menikah setelah saya, langsung mendapat buah hati.
Apalagi saat divonis dokter bahwa kami hanya bisa memperoleh keturunan melalui proses bayi tabung. Saya marah pada suami, mengapa saya yang harus sakit disuntik, distimulasi dan menanggung semua proses padahal saya normal dan suami yang memiliki kelainan.
Ya, saya marah dan sedih. Tidak bisa menerima. Saya egois karena memikirkan diri sendiri. Dan saat itu saya belum siap menjalani proses bayi tabung. Seiring berjalannya waktu, saya sadar bahwa memiliki seorang anak adalah keinginan dan keputusan suami dan istri dan sebagai istri saya juga harus menyuport dan ikut menanggung beban mental keluarga.
Saya akhirnya sampai pada tahap ikhlas menjalani proses bayi tabung. Apalagi saya menyadari bahwa suami juga sangat terpukul dengan keadaannya dan sedih mengetahui bahwa proses bayi tabung adalah proses yang tidak mudah untuk saya.

Program bayi tabung kami dimulai bulan Juni 2014. Hari kedua mens, saya datang ke RS Siloam Surabaya untuk USG Transvaginal dan cek darah lengkap. Berdasarkan hasil lab, Dokter Aucky memutuskan saya ikut Short Protocol dan bisa langsung suntik Gonal F di hari ketiga mens. Suami diresepkan vitamin untuk dikonsumsi.
Saya bersyukur karena tidak ada kendala berarti sebelum memulai proses ini. Bahkan dokter berkata, kami masih muda dan tingkat keberhasilan diatas 50%.
Hari ketiga mens, jam 7 malam saya suntik Gonal F sebanyak 2 ampul. Harga terbaru Gonal F adalah 600rb per ampulnya. Karena saya suntik 2 ampul, maka sekali suntik adalah 1,2jt.
Saya suntik Gonal sebanyak 7 hari. Di sela-sela suntikan Gonal tersebut, dokter memantau perkembangan sel telur saya lewat USG Transvaginal dan cek hormon Estradiol. Hormon Estradiol harus naik bertahap untuk membuktikan bahwa tubuh saya merespon Gonal F dan stimulasi terhadap indung telur diterima dengan baik.
Saat suntik tidak sakit, bahkan kegiatan suntik menyuntik ini dilakukan oleh suami saya sendiri, jadi saya tidak perlu bolak balik ke RS Siloam.
Suami saya dengan sabar menyuntik dan menenangkan saya jika mood atau emosi saya naik turun setelah suntik obat hormon ini.
Suami menghibur dan mengajak saya menikmati makanan enak, memijit kepala dan pundak saya.
Sesaat setelah disuntik kepala saya selalu kliyengan, agak tidak nyaman. Tapi proses yang paling tidak enak adalah saat pengambilan darah, karena terlalu sering ditusuk jarum, nadi saya selalu nyeri. I hate the sensation.
Dokter Aucky mengganti suntikan Gonal F dengan suntikan Pergoveris di hari ke ?8 karena menurut beliau telur saya belom memenuhi ekspektasi.
SUntikan Pergoveris lebih mahal, 1.3juta sekali suntik. Belom rasanya sakittt banget ketika obat masuk ke dalam kulit. Sampe nangis pas disuntik!

Setelah 7x suntikan Gonal F dan 2x suntikan Pergoveris, saya dinyatakan siap untuk OPU. Lalu saya pun disuntik pecah telur. Saat OPU, saya tegang banget, takut sakit dan nervous. Saya datang pagi pagi lalu mendaftarkan diri. Suami selalu menemani dan berusaha menenangkan saya, beliau berkata, jika proses ini bisa diwakilkan dia dengan rela menggantikan saya. Sebelum OPU, saya diminta melepas semua baju dan pakaian dalam, dan berganti pakaian biru untuk operasi. Obat penghilang nyeri sebanyak 2 tube dimasukkan lewat anus, lalu jarum infus dipasang di pergelangan tangan kiri. Kata suster itu infus untuk memasukkan obat antobiotik. And, here we go!

Saya naik ke kursi lalu suster membuka lebar paha saya, tanpa ada penutup di area kemaluan. Duh, risih dan malu, apalagi banyak suster dan dokter sliweran. Tangan kanan saya disambungkan dengan alat tensi, sementara tangan kiri dipegangi oleh suster.
Kaki kanan dan kiri diikat dengan sabuk, tujuannya supaya saat OPU, kita tidak menggerakkan tubuh. Saya tegang dan takut, suster menggenggam tangan saya.
Lalu proses OPU dimulai. Suster menyiramkan gel dingin untuk membersihkan area luar kemaluan. Setelah itu, dokter mendekat, memasukkan alat untuk menyemprot cairan kedalam vagina lalu membersihkannya. Rasanya seperti disikat dengan sikat.
Dan, alat penyedot sel telur dimasukkan, saat dimasukkan, tidak terasa sakit, namun saat dokter menusukkan jarum menembus indung telur, rasanya ngilu dan tidak nyaman.
Ternyata sensasi sakitnya tidak semengerikan yang saya kira, hanya serasa perut diacak-acak dengan benda tumpul. Proses berlangsung selama 10 menit. Dan didapat 11 sel telur yang siap untuk dibuahi.
Suster berkata, jadwal ET akan ditentukan hari kedua setelah OPU. Jadi hari kedua setelah OPU saya harus menelepon RS. Saya berharap bisa transfer Blastocyst (embrio usia 5hari) karena embrio yang dapat bertahan hingga 5 hari memiliki kans yang lebih besar untuk bertahan dan menempel di dalam rahim.

Hari kedua setelah OPU saya menelepon RS dan ternyata ET akan dilakukan keesokan harinya, which is usia embrio 3 hari.
Saya agak kecil hati dan bertanya-tanya, apakah dari 11 sel telur tersebut hanya sedikit yang terbuahi? Sehingga embrio harus ditransfer di hari ketiga, bukan kelima..
Saya berasumsi, namun suami dan keluarga memberi kata-kata positif. ET berjalan lancar, hanya 5 menit dan tidak ada rasa sakit. Kecuali saya harus menahan kencing karena sebelumnya suster meminta saya minum 1 botol air dan tidak boleh pipis.
Setelah ET saya diharuskan istirahat di kamar RS selama 8 jam dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala.. Dari 11 sel telur, hanya 6 sel telur yang memenuhi syarat untuk disuntik dengan sperma. Dari 6 sel telur yang disuntik, hanya 3 sel telur yang terus membelah.
Namun tidak ada yang berkualitas excellent. Dokter Hamdani hanya berkata “Bagus kok kualitasnya”. Semua embrio dimasukkan saat ET. Dan tidak ada cadangan. Saya pulang dengan optimis dan rasa syukur karena separo proses sudah saya jalani. Mulailah masa Two Week Wait saya.

Saya beristirahat, tidak bekerja dan hanya tidur-tiduran di kamar. Tidak naik turun tangga tetapi mandi dan buang air seperti biasa. Hari-hari saya jalani dengan optimis. Setiap malam tidak lupa saya memasukkan Crinon untuk penguat rahim.
KAdang perut terasa kembung, begah dan sedikit mulas. Kadang seharian tidak terasa apa-apa.
Setelah ET, saya rutin mengkonsumsi Sari Pati Ikan Kutuk untuk pemulihan dan stamina serta untuk mencukupi kebutuhan albumin agar tidak terserang OHSS.
Yang menyiksa saya saat masa penantian adalah pikiran negatif saya. Saya parno kalau tidak merasakan apa-apa di perut, padahal banyak wanita yang hamil muda secara alami tapi tanpa merasakan apapun sebelumnya.
Support suami sangat penting. Saya bersyukur punya suami yang support, pengertian, melayani dan cinta banget sama saya. 2minggu saya lalui, saya hanya keluar rumah saat harus suntik HCG di RS selama masa penantian.
Saat suntik HCG yang pertama, perut saya sempat kembung dan sakit. Saya takut terserang OHSS, tapi sehari kemudian semua rasa kembung hilang.

Lalu tiba saatnya cek darah untuk penentuan. Saat diambil darah, suster sampai mencoblos nadi saya 3x karena saat dicoblos nadi saya ciut sehingga darah tidak bisa mengalir keluar. Bukan karena tegang menunggu hasil tapi karena saya udah trauma dan males banget dengan kegiatan mengambil darah di nadi.
Jujur, beberapa hari sebelum pengumuman, saya dan suami udah yakin banget kalo program ini berhasil dan saya hamil. Saya merasa suhu tubuh lebih tinggi dari biasanya dan detak jantung berdetak lebih cepat. SUami bahkan punya feeling kalo saya hamil kembar.
Jam 8 cek darah, jam 12 saya diminta telpon RS untuk mengetahui hasilnya.
Deg-degannya ini mengalahkan semua deg-degan yang pernah saya alami. Mendekati jam 12 makin takut.
Saya ga berani telpon RS, akhirnya suami yang nelpon.

Saat suami nelpon, saya memperhatikan dengan seksama raut mukanya, berusaha membaca situasi dan menebak jawaban suster.
Saya berharap suami berkata, “Puji Tuhan, jadi istri saya hamil ya sus?”
Tapi muka suami saya datar banget sambil berkata “Oh gitu, jadi bagaimana ya sus?” dengan suara bergetar. Seketika saya sadar bahwa bayi tabung kami gagal.
Suami menutup telpon dengan mata berkaca-kaca sambil berkata “Suster bilang hasil darahnya kurang bagus, HCG nya hanya 3,5” then I said “Oh ya gagal itu”. Karena kadar minimum HCG untuk wanita hamil adalah 10.
Saya duduk dan tidak bisa berkata-kata. Suami sibuk dengan pikirannya sendiri. Saya lebih tegar, suami nangis karena sebenarnya dia yang pengen banget punya anak. He is the one who really want this works.

Kami berpelukan, tanpa berkata apapun. Karena malam sebelumnya kami saling berjanji, jika program ini batal, kami tidak boleh saling menyalahkan. Kami berdoa bersama, sambil menangis, kami mengucap syukur karena boleh melalui semua ini. Kami berterima kasih pada Tuhan.
Kami berusaha memahami, mengapa? apakah belum saatnya?
Saat yang berat, ketika malam hari setelah telpon pengumuman, kami harus tetap ke RS untuk evaluasi kegagalan program.
Dokter hanya berkata, penyebabnya adalah kualitas embrio yang kurang baik. Entah dari sel telur atau dari sel spermanya. Dokter tidak bisa menjawab.
Karena saat beliau memilih sel sperma, hanya dilihat sel sperma yang kepalanya bagus saja. Lalu disuntikkan ke sel telur.
Next time, kalau mau bayi tabung lagi, dokter menyarankan untuk ikut Long Protocol supaya sel telur lebih homogen.
Kami pulang dari ruang praktek bergandengan tangan, saling menguatkan tanpa mengeluarkan kata-kata.
Saya tahu, bukan uang 41 juta yang ditangisi suami setiap malamnya, tapi beliau sedih mengapa kami masih belom diberi kepercayaan untuk menimang seorang anak.
Tapi, saya percaya Tuhan itu baik. Dia benar-benar tahu waktu yang tepat untuk kami. Dia benar-benar mengerti kesiapan kami.
Setelah proses bayi tabung, saya jadi makin cinta sama suami. Hubungan kami makin dekat, makin mesra. Dan saya sangat bersyukur akan hal ini.
Saya bersyukur pada Tuhan karena proses ini memberi pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Bagi saya terutama, pelajaran menerima suami, menerima kenyataan, menjalani dengan ikhlas dan ketika hasilnya belum sesuai harapan, saya dilatih untuk sabar dan berserah pada Tuhan.
Tidak lama setelah proses bayi tabung, suami mendapat rejeki pekerjaan dengan nominal yang sama dengan biaya bayi tabung kami. Tuhan mengganti biaya tersebut!
Saya sadar, apapun proses yang kita lalui dalam hidup ini, semuanya adalah kehendak Tuhan. Dia yang mmelihara hidup kita.
Tuhan mengijinkan kita menghadapi pencobaan ini dengan satu tujuan. Mari berpasrah dan jalani.

Pengkotbah 3:1-2 “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam”

Semoga Tuhan memberkati semua pasangan yang struggle dalam mendapat keturunan dan semoga kisah saya menguatkan dan menginspirasi anda.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading...