Azoospermia BT berhasil, OPU 64 telur OHSS – Vivi dan Teguh
Saya ingin berbagi pengalaman kami selama menjalani bayi tabung. Saat ini istri saya (vivi) tengah hamil hampir satu bulan dan diperkirakan akan kembar tapi kepastianya baru akan diketahu hari senin (14/09/09). Kami sudah menikah selama 8 tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk memilih bayi tabung. Masalah terutama kesulitan kami untuk memiliki bayi adalah putusnya saluran sperma saya hingga saya menderita azzospermia sekitar 2 tahun yang lalu tanpa sebab yang jelas. Kami mencoba memperbaiki kondisi tersebut dengan operasi penyambungan kembali di RSCM tahun 2008 yang lalu tapi gagal.
Setelah bulat hati, dan mempersiapkan mental dan tentu saja keuangan. Kami mencari RS yang kami anggap terbaik untuk proses bayi tabung kami dan tentu saja di Indonesia, bukan saja karena alasan nasionalisme
tapi kami banyak bertanya pada dokter sebelumnya, angka keberhasilan bayi tabung banyak di tentukan oleh faktor kenyamanan bagi calon pasangan, keterampilan dan pengalaman dokter saat embryo transfer, baru teknologi. Disisi lain, saya tidak tega meninggalkan istri sendiri di LN untuk mengikuti keseluruhan bayi tabung ada perasaan agak kurang bertanggung jawab
.
Pilihan kami awalnya adalah Harapan Kita, Yasmin RSCM, Morulla Bunda, dan Gading Pluit Kelapa Gading. Harapan kita kemudian kami coret karna jaraknya cukup jauh, kami di kawasn perbatasan jaktim dan pusat (pramuka), Yasmin kemudian kami coret juga karena pelayanan administrasinya sangat berbelit dan tidak ramah. Pilihan kami akhirnya jatuh ke gading pluit setelah kami menerima perlakuan yang sangat buruk di RS bunda. Walaupun awalnya istri saya sangat enjoy konsultasi dengan dokter Taufik Jamaan disana. Saat kami berkunjung ke Bunda untk menanyakan prosedur bay tabung, kebetulan kami memakai sepeda motor karena hari sangat macet, dan bercelana pendek saja.Kami disuruh menunggu selama 1 jam tanpa informasi apapun sampai akhirnya saya “meledak” baru administrasinya datang, dan melayani kami. Setelah mendapat perhitungan biaya secara lisan, kami minta agar keseluruhan biaya dan proses yang harus dilalaui di emal atau di fax ke alamat kantor saya. Selama 1 bulan kami menunggu tidak ada lagi informasi apapun yang kami terima. Satu faktor penting sudah hilang , kenyamanan.
Akhirnya kami ke gading pluit setalah kami mengirim email, dan mereka merspon dengan cepat, kami di undang mengikuti seminar bayi tabung di RS itu , gratis dan dapat makan siang, dan boleh bertanya apapun sampai semua pertanyaan kita tuntas. Akhirnya kami memutuskan disana, melihat teknologi mereka merupakan teknologi terbaru dengan dokter berpengalaman dari Harapan kita. Dokter yang menangani kami adalah dokter Irsyal.
Awalnya kami harus mengikuti test kesehatan, secara keseluruhan termasuk HIV. Karena sperma saya dengan jalur normal susah di ambl maka dilakukan prosedur operasi Tessa, dimana sperma di ambil langsung di buah zakar saya , Thanks God kami dapat 17 Straw. Sperma selanjutnya dibekukan.
Kemudian Istri saya mulai memakai obat yang disuntikan setiap hari, selama 2 minggu, sayangnya pas sel telurnya sudah bagus, herpes kulit istri saya kambuh dan terpaksa proses dihentikan sementara sampai dokter menganggap tidak kambuh lagi.
Setelah berobat, selama hampir 1,5 bulan akhirnya kami mulai lagi dan istri saya menjalani rutinitas menyuntikan kembali obat penyubur (saya lupa) selama 2 mingguan lebih sampai akhirnya sel telurnya dinyatakan laik panen.Vivi mungkin memecahkan rekord nasional untuk telur yang dihasilkan (64 telur) dengan kualitas telur terbaik 12, dan menjadi 6 embrio. Sayangnya istri saya mengalami kasus OHSS (over stimulasi), kasus yang sebetulnya sangat langka tapi dia mengalaminya dan harus di rawat selama seminggu di RS, itu pun harus dengan penyedotan karna OHSS menyebakan berat Vivi naik 6 kg dalam waktu 2 hari akibat cairan sel telurnya berkembang terus. Untuk yang akan bayi tabung meski harus siap-siap tapi tidak usah terlalu khawatir kasus ini peluangnya sangat kecil, walaupun kalau terjadi biaya menginap, dan penyedotan cairan sel telur hampir sama besarnya dengan biaya OPU dan tranfer embrio.
Karena OHSS tersebut embrio kami terpaksa dibekukan dan baru 2 bulan berikutnya (14 Agustus 2009), embrio tersebut di cairkan sebanyak 4, satu meninggal dan 3 terhitung sangat baik. Sedih juga rasanya mengetahui satu embrio meninggal, walaupun belum bernyawa tapi rasanya salah satu anak kami sudah meninggal. 3 embrio kemudian di masukan ke rahim istri saya, oleh Dokter Irsyal. dan kami harus menunggu dua minggu untuk mengetahu hasilnya.
Masa dua minggu merupakan masa yang paling sulit bagi kami, bahkan keteganganya jauh lebih besar dari proses-proses sebelumnya termasuk OHSS sekalipun. ingin rasanya melakukan test kehamilan setiap hari tapi menurut dokter kemungkinannya sangat besar menghasilkan kehamilan palsu (false pregnancy) karena sebelum ET, Vivi di suntik Pregnyl dan minum progynova, yang kemungkinan akan mempengaruhi hasil test sendiri sebelum 2 minggu.
Tapi nyatanya kami tidak tahan juga, hari ke 1 saya membeli sebox direct test (alat test yang lebih sensistif dari sensitive) dan melakukan test hampir setangah hari sekali
, hasilnya 2 garis!!! alias haamil. Senang sekaligus agak kurang percaya, kami konsisten mengecek kehamilan setiap hari hingga hari ke 14, dan hasilnya juga konsisten 2 garis!!! tiba di hari ke 14 kami periksa beta HCG di gading pluit, hasilnya adalah 1900/HCG, pasti hamil dan kemungkinan besar kemar karena sebulan sebelumnya ada pasien yang berhasil bayi tabung di Gading Pluit dan oleh dokter Irsyal , kembar 3 dan kadar HCG nya hanya 1300.
Kini Vivi tengah mual hebat-hebatnya, tapi berdasarkan pengalaman bibi dan kakaknya yang pernah hamil kembar, memang kehamilan kembar jauh lebih “menyiksa” dalam trimester pertama di bandingkan kehamilan tunggal. Antara khawatir dan bahagia kini bercampur aduk. Vivi kini harus meminum progynova setiap hary, progesterone vaginal setiap malam (cycrone) dan suntikan pregnyl setiap minggu.
Kini kami menunggu tanggal 14 September 2009 untuk memastikan kesehatan janin kami dan berapa kembar yang kami punya
Demikian pengalamn kami, dengan segala kerumitan yang kami alami, total biaya yang kami habiskan mencapai 108 juta rupiah termasuk operasi Tesaa, pembekuan dan penyimpanan dan pencairan kembali sperma dan Embrio, OPU dan ET, obat-obatan, biaya perawatan dan penyedotan OHSS.Sungguh rasanya tak sia-sia semua pengorbanan hampir setengah tahun penuh yang kami jalani. Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi yang akan melakukan bayi tabung.
Salam
Vivi dan Teguh
Jakarta



posted on September 14th, 2009 at 7:18 am
posted on September 14th, 2009 at 8:19 am
posted on September 14th, 2009 at 8:40 am
posted on September 14th, 2009 at 8:42 am
posted on September 14th, 2009 at 8:47 am
posted on September 14th, 2009 at 9:04 am
posted on September 14th, 2009 at 9:23 am
posted on September 14th, 2009 at 12:52 pm
posted on September 14th, 2009 at 1:06 pm
posted on September 14th, 2009 at 1:10 pm
posted on September 14th, 2009 at 10:39 pm
posted on September 16th, 2009 at 9:10 am
posted on September 19th, 2009 at 11:24 am
posted on September 23rd, 2009 at 10:28 pm
posted on September 23rd, 2009 at 11:06 pm
posted on November 25th, 2009 at 11:41 am
posted on November 26th, 2009 at 12:45 pm
posted on November 30th, 2009 at 10:16 am
posted on December 6th, 2009 at 9:55 pm
posted on December 13th, 2009 at 2:12 pm
posted on December 14th, 2009 at 1:21 pm
posted on January 18th, 2010 at 3:02 pm
posted on May 5th, 2010 at 10:48 am
posted on September 7th, 2010 at 5:04 am
posted on November 25th, 2010 at 6:32 pm
posted on May 6th, 2011 at 11:33 pm
posted on February 2nd, 2012 at 5:44 pm